Tuesday, 12 April 2011

sinten kulo?

Oke, jam di monitor menunjukkan angka 10, Tuesday, April 12th.
Hari ini ada kuliah pukul 8 tapi kereta yang kunaiki baru masuk gambir pukul 8.03. yah, terpaksa merelakan satu mata kuliah lagi setelah kemarin juga bolos ASP karena masih wawancara di kampong halaman dengan ibu kepala bagian akuntansi dan asset Dinas pendapatan, pengelolaan keuangan dan asset Kota Mojokerto (heuleuh, panjang banget yak namanya; perjuangan untuk sampai kemarin pun juga sangat panjang. InsyaAlloh lain kali cerita tentang hal itu..)

Dan nanti pukul 11 waktu bagian ceger, juga aka nada kuliah ASP lagi. Kali ini saya gak mau bolos. Ya, sebelumnya ada tugas dari pak guru kepribadian saya untuk bikin satu tulisan tentang “who am i?”. sebetulnya saya agak kurang setuju dengan tugas ini, karena mendeskripsikan diri sendiri itu, susah. Sumpah! Soalnya, kita sangat mungkin untuk mencampuradukkan antara fakta, impian, dan tendensi setiap orang untuk berlaku narsis. Alangkah lebih bijak jika orang lain yang mengambil/ menarik opini atas diri kita sendiri.

Yah, tapi, demi “pemenuhan tugas”, inilah saya…
dan setelah membaca ini, cintailah aku apa adanya, hahaha!!! Narsis yang pertama. (mari kita hitung berapa kali saya bertindak narsis).

Jadi, kita mulai dengan pendapat orang lain.
Talisa Noor, Duta STAN 2011 mendeskripsikan saya dalam testimonialnya sebagai “pemalu yang bijaksana. Kombinasi 2 sifat yang aneh.”

Ya, Anda benar mbak tasa, (pantes jadi duta STAN, pinter gitu..). saya pemalu. Saya sering berkeringat ketika harus berdebat dengan orang lain, atau menghadap orang-orang yang penting i.e. dosen, cewek, dll. Haha, iya, saya tidak pandai bicara kalo sama cewek. Bawaannya nerveous mulu.

Untuk menyiasatinya, saya banyak “memaksa” diri saya sendiri untuk lebih komunikatif degan orang lain. Contohnya, seringkali saya angkat tangan buat nanya di kelas biar terbiasa. Selain untuk mengurangi kebiasaan nerveous agar nanti pas udah kerja gak malu2in, cara itu ampuh untuk menghilangkan kantuk lho… lho kok bisa? Dengan bertanya, jujur selama beberapa saat sebelum dan sesudah Anda mengajukan pertanyaan, denyut jantung Anda akan meningkat intensitasnya. Hal ini memompa darah dan oksigen lebih banyak ke seluruh tubuh, termasuk otak. Nah, otak tengah (kalo gak salah) adalah pusat saraf untuk mengendalikan ketidaksadaran berupa kantuk, lapar, dsb. Di sanalah asal muasal kalo kita nanya jadi gak ngantuk.

Strategi lainnya adalah, dalam setiap kepanitiaan yang saya ikuti, saya selalu berusaha ikut bidang yang butuh banyak ngomong. Contohnya, Acara yang butuh buat ngonfirmasi pembicara, atau Humas-LO yang ngomong mulu.
Kalau bijaksana? Hmmm, Anda tahu sendirilah.. Heehee (narsis yang kedua).

Selanjutnya, menurut teori kepribadian (lupa namanya teori apa, gak sempat nulis sambil mikir. Udah pukul 10.35, mau kuliah ASP ), saya cenderung manusia tipe-A. saya tidak dapat membiarkan waktu luang terbuang Cuma-Cuma. Pokoknya, setiap detik dalam hidup saya harus bervalue added. Sesepele apapun itu, jalani dengan niat ibadah dan serius. Insya Alloh mendatangkan manfaat, @least bagi diri kita sendiri.


Prinsip ini membuat saya menyukai hampir semua hal. Saya menyukai filateli, melukis, menulis cerita, puisi, olimpiade, koleksi, badminton, membaca, nonton tv, game pokemon, audit, dan lain sebagainya.

Saat tes psikologi jaman SMA dulu pun, orang-orang bingung menganalisa mana yang bekerja lebih baik dari otak saya. Kiri atau Kanan. Dan sampai sekarang pun saya tidak memilih untuk mencenderungkan (halah,bahasa apa ini??) otak saya ke sains atau seni. Kalau bisa sih, I want to hold both..

PS: maaf, tulisan saya kacau. Inilah kombinasi dari galau KTTA+baru pulang kampung+dikejar jadwal kuliah pukul 11.

No comments:

Post a comment