Monday, 11 February 2013

Berburu Sunrise di Kerajaan Majapahit



Minggu 10 February 2013. Sudah beberapa hari ini langit sangat cerah, jadi saya rasa pagi ini matahari akan terbit dengan indah. Tidak ke gunung, melainkan saya pergi ke Trowulan, (yang diyakini merupakan) pusat peradaban Kerajaan terbesar di Nusantara, Majapahit. Dalam bayangan saya, akan indah mengambil siluet sunrise mengintip dari balik bangunan candi.

Pukul 5, jalan raya Surabaya-Jogjakarta masih lengang. Sesekali Bus Sumber Kenc*no menyalip dengan kecepatan standar (standarnya-red) membuat saya memilih filosofi “alon-alon waton kelakon”.

Terakhir ke Trowulan saat SD dulu. Saat itu kami karya wisata ke candi-candi sambil diwajibkan membuat laporan perjalanan yang membosankan (tak disangka, saat dewasa, kegiatan tersebut jadi hobi).

5.20, Wringin Lawang
masih berkabut

semburat horizon, tapi mentari masih enggan muncul

the living harmony ^,^
Wringin Lawang bukanlah candi. Ia hanya berbentuk gapura yang dulunya (biasanya) gapura adalah symbol tempat masuk sebuah bangunan/ kerajaan.

Terlihat dari jalan raya, tempat ini sangat cocok kalau dipakai untuk menanti sunrise keluar dari sela kedua gapuranya. Sayang masih kepagian. Loket masih tutup jadi saya tak perlu beli karcis. Seperempat jam kemudian tak ada tanda kemunculan matahari di ufuk timur, membuat saya bosan menunggu dan memutuskan ke situs selanjutnya.

5.55, Kolam Segaran
sun rises at the border of land, sky, and water

irigasi zaman Majapahit
Tempat penampungan air zaman Majapahit ini terletak di samping jalan. Di sepanjang bantaran kolam, banyak pemancing dan remaja yang jogging. Sepanjang jalan banyak dijumpai lesehan ikan wader (yang mungkin) hasil tangkapan dari kolam. Hmm, kabarnya dulu para ratu dari berbagai kerajaan (ratu artinya penguasa, sekalipun laki-laki) yang melamar Putri Kerajaan Majapahit banyak membawa emas dan benda berharga lainnya yang serta merta dibuang ke kolam karena sang putri menolak pinangan mereka semua. 

Berminat nyemplung cari harta karun di sini?

Sunrise oranye terlihat sepenggalah naik di cakrawala, tapi saya melanjutkan perjalanan karena dari sini, matahari tak terlalu fotogenik.
6.00, Candi Tikus

taman candi tikus

what i have looking for, sunrise

apiknya taman, menyejukkan mata

temple at its balance

gadis-gadis kecil
Yang berbeda dari kunjungan saya saat SD dulu dengan yang sekarang adalah, pelataran candi dihias taman luas aneka bunga yang menyejukkan mata.

Candi ini terletak di Dusun Dinuk, Desa Temon, Kec. Trowulan. Candi ini dibangun di bawah permukaan tanah dengan panjang dan lebar sama 22,5 m. Dinamakan Candi Tikus karena saat penggalian tahun 1914, banyak ditemukan sarang tikus di sana. Diperkirakan Candi ini dibangun pada abad XII-XIV Masehi dengan fungsi yang tidak dapat dipastikan sampai saat ini. Namun, formasi candi dikatakan para sejarawan mirip the holy mountain, Mahameru di India.

6.20, Candi Bajang Ratu

Bajang= bujang= anak laki-laki kecil.
Ratu= raja.

Kalau dibaca di papan informasi, Bajang Ratu ini diperuntukkan bagi raja Jayanegara yang memang dinobatkan sejak beliau kanak-kanak (bujang).

Lebih tepatnya bukan candi sebetulnya, tapi gapura. Akan tetapi gapura ini memiliki atap. Atapnya sepertinya rapuh karena disangga tiang-tiang besi sehingga pengunjung dilarang naik. 
teratai, bunganya Dewi Kwan Im

Kenali Budayamu, Cintai Negerimu
Mirip iklan Kementerian Pariwisata ya? Lengkap dengan simbol candinya

again, simetris

ehem, right man in the right place
*ditimpuk pemirsa

7.00, Pendopo Agung

Dari sini judulnya sudah harus direvisi. Bukan lagi mengejar sunrise, sebab matahari sudah tinggi. Tidak ada karcis masuk, hanya parkir saja seharga Rp 2.000,00.

Pelataran pendopo dengan marmer yang dingin ditambah semilir angin cukup memanjakan diri. Tak salah kalau banyak keluarga yang memilih wisata refreshing ke tempat ini. Di tempat ini selain pendopo,ada juga diorama foto situs-situs Majapahit, relief penobatan Raden Wijaya dan sumpah palapa, patung Gajah Mada, serta kompleks pekuburan di sisi timur.
Makam Panggung

pendopo yang ademmmm

"lamun huwus kalah nusantara, isun amukti palapa, lamun kalah ring guaun, ring seran,
ring tanjungpura, ring haru, ring pahang, dompo, ring bali, sunda, palembang, tumasik, samana
isun amukti palapa"

~MAHAPATIH GAJAH MADA, SUMPAH PALAPA~

atap Makam Panggung

Paku Bumi Tempat Sayembara Gajah

Iseng saya menuju bagian belakang pendopo, dan…

Woah, ada serombongan santriwati sedang membaca yasin di sebuah makam yang di belakang mereka, ada bangunan bernama Panggung. Di sana tertulis bahwa Makam Panggung adalah tempat pertapaan Hayam Wuruk serta tempat Gajah Mada mengucapkan Tan Amukti Palapa. Yeah, dari sinilah negaraku berasal!!!

Di antara pendopo dan makam panjang, ada bangunan berisi sebuah pasak batu yang konon merupakan tempat mengikat gajah jaman dulu. Sejarahnya, putri kerajaan Majapahit ini hanya mau menikah dengan pelamar (para raja) yang bisa memindahkan pasak batu tersebut. Wow, sampai merinding mengingat betapa dekat saya dengan bukti-bukti sejarah.




2 comments: