Friday, 17 March 2017

Tugas Belajar Bersama



Kali ini Saya akan memosting tulisan yang bukan tentang jalan-jalan. Tulisan ini sebenarnya dimaksudkan sebagai kenang-kenangan untuk kami dan anak-anak kami kelak. Bahwa proses tumbuh kembang pertama yang mereka rasakan dulu saat baru lahir, dilalui bersama tugas-tugas paper yang datang silih berganti, dan proses belajar jalannya (ngelasut-merangkak-tatah) dilalui di tengah tumpukan kertas revisi-an skripsi yang memenuhi ruangan.

Highlight dari tulisan panjang ini adalah, Saya bersyukur sekali memiliki waktu dan kesempatan selama 1,5 tahun untuk membersamai istri dan anak. Waktu sebanyak ini adalah hal yang mahal bagi seorang PNS yang dijatah cuti tak lebih dari 12 hari dalam setahun. Banyak sekali hal menyenangkan selama di kampus, termasuk deadline tugas-tugasnya, ujiannya, sidangnya, dan tentu saja, skripsinya. Bahwa ungkapan “tidak ada hal yang lebih menyenangkan dibanding bangku sekolah” memang benar adanya. Semoga kita, Saya dan Anda, dapat segera mengenyam bangku sekolah lagi ya. 

Monday, 27 February 2017

Traveling After Marriage, Tips Jalan-Jalan Bersama Balita

Lagi-lagi saya ingin menegaskan bahwa menikah dan punya anak sama sekali tidak akan menghalangi kita untuk berpetualang. Sedikit perbedaannya mungkin akan ada pada pilihan destinasi saja. Kalau saat lajang, gunung akan memuaskan kita secara lahir batin, tetapi anak kita mungkin akan kedinginan dengan suhunya. Arung jeram mungkin memang seru, tetapi istri kita yang phobia air deras pasti cuma nunggu di basecamp saja. Kasihan kan... Padahal goal dari setiap wisata adalah semua menang, semua senang. Win win solution nya adalah dengan memilih tempat yang bisa dinikmati semua orang. Kebun binatang, Kebun Raya, Pantai, dan Gardu Pandang bisa jadi pilihan.

Membawa balita saat traveling perlu persiapan ekstra. Kalau untuk diri sendiri sih, tinggal bawa dompet, kamera, dan motor sih bisa langsung berangkat subuh-subuh mengejar matahari terbit. Kalau bersama balita? Anak kami sendiri, Hafsa, sudah beberapa kali diajak mudik sambil traveling sejak 2 bulan (mojokerto), 4 bulan (jogja), 6 bulan (bandung), dan seterusnya sampai sekarang 1 tahun lebih. Alhamdulillah sih beberapa kali sempat sakit juga di perjalanan, jadi kira-kira kami sudah memiliki sedikit pengalaman untuk dibagi. Berikut ini beberapa tips dan hal-hal yang perlu dipersiapkan ketika membawa balita di perjalanan.
with our 2 months babygirl in train trip to east java

Saturday, 25 February 2017

Traveling After Marriage- Tips Jalan-Jalan Saat Istri Sedang Hamil



Hobi jalan-jalan? Yaaaa. Senang dengan wisata adrenalin? Ya, saya juga. Merasa tenteram justru ketika di kendaraan perjalanan jauh alih-alih bersantai di rumah? Sama. Masih banyak tempat indah di Indonesia yang masih ingin dikunjungi? Tentu saja.

Pernah khawatir menikah dan punya anak akan memberhentikan petualanganmu? Haha, I did. Pernah punya teman yang sejak menikah susah diajak naik gunung? Pernah. So, masih mau menunda pernikahan dan punya anak? Hmm, maybe. But, sampai kapan?

Indonesia dengan 17.000 pulaunya, ngga akan habis kita kunjungi satu persatu selama 46 tahun, bahkan jika kita mengunjunginya setiap hari. Sementara, makin banyak tempat wisata baru yang muncul di media sosial. Contohnya, di Jogja yang sudah banyak tempat bagus saja, masih bisa bertambah tempat wisata baru seperti napak tilas lokasi selingkuh Rangga dan Cinta, Tebing breksi, Punthuk Mongkrong, Pantai Cemoro Sewu, daaan masih banyak lagi.

Wednesday, 31 August 2016

Visit Bantul: Hutan Pinus Mangunan

penuh aroma pinus
Mungkin agak telat saya memosting tuisan ini karena sejatinya, hutan pinus mangunan sudah sangat terkenal baik di blog, twitter, fb, apalagi path. Begitu banyak orang yang membahas tempat ini di media sosial. Jika Anda ingin mengunjunginya, silakan nyalakan aplikasi google maps dan ia akan mengantarkan Anda tepat di tujuan tanpa tersesat. Saya kesulitan mendeskripsikan arah suatu tempat karena memang rumit sekali menjelaskan setiap tikungan yang ada (apalagi seumpama saya tulis, trus ada yang baca blog ini sambil nyetir di jalanan imogiri; sangat tidak dianjurkan). Pada akhirnya saya lebih senang menyarankan Anda untuk memakai aplikasi penunjuk jalan saja.

Tuesday, 23 August 2016

Visit Bantul: Songgo Langit, Mangunan



Songgo Langit (per Agustus 2016) belum banyak dibahas di media sosial sehingga lokasinya masih relatif sepi. Selain karena masih baru, tempat ini letaknya berdekatan (tapi agak tersembunyi) dengan hutan pinus mangunan yang ramai itu. Padahal songgo langit sangat photogenic lho.

Setiap kali traveling ke suatu tempat, saya selalu tengok kanan kiri sembari berharap menemukan satu tempat menarik yang layak dikunjungi di luar daftar rencana yang telah saya susun pagi harinya. Terkadang saya menemukan satu atau dua pantai yang mempesona, kadang juga harus bertemu penduduk lokal yang mengancam-ancam pakai celurit agar segera pergi dari tempat itu. Pernah karena kejauhan buat balik lagi ke jalan raya sampai ngemper tidur di masjid, pernah juga ngikut ke rumah penduduk lalu ngga bisa tidur sampai pagi karena diceritakan urban legend soal orang-orang sakti yang bisa mencuri sapi sekandang tanpa diketahui jejaknya di kampung itu. Macam-macam lah…

Visit Bantul: Menikmati Pentol Bakso di Kebun Buah Mangunan



Kalau jaman dulu jargon wisata Indonesia era 2013 di iklan-iklannya adalah: “Wonderful Indonesia: Feeling is Believing”, nampaknya sekarang sudah tidak relevan lagi. Wisatawan (nasional) pada umumnya lebih senang berburu tempat-tempat yang selfie-able daripada tempat-tempat tenang yang memberikan kepuasan batin. Feeling itu nomer sekian ya, yang penting eksis. Level pencapaiannya dihitung dari seberapa banyak jumlah jempol dan komentar di media sosial sehingga foto terbaiklah yang dicari. Hal ini mendorong tumbuh pesatnya lokasi-lokasi wisata yang ikonik dan meninggalkan lokasi wisata yang terlalu mainstream di masa lampau.

Visit Bantul: Berburu Suvenir Pernikahan



Jika mengejar sunrise sudah terlalu jamak, ada alasan anti mainstream kenapa Anda harus mengunjungi Bantul. Mencari souvenir untuk pernikahan!

Sebagai momen once in a lifetime, setiap detil pernikahan semestinya sudah kita persiapkan jauh-jauh hari. Termasuk keperluan souvenir yang sebetulnya tampak sederhana, tetapi kalau tidak dipersiapkan, bisa menimbulkan permasalahan juga.

Bantul, tak berlebihan jika ia memiliki slogan Projotamansari yang “Pro” nya merupakan kependekan dari Produktif Profesional. Tidak sulit kita temukan pasar seni dan kerajinan di Bantul. Salah satu yang paling terkenal adalah Kasongan yang terletak di pedukuhan Kajen, desa Bangunjiwo, kecamatan Kasihan, sekitar 6 km dari alun-alun lor Yogya ke arah selatan dan sekitar 3 km lapangan Paseban Bantul ke arah utara(agar lebih akurat, tanya saja google map). Banyak pemburu suvenir pernikahan yang menemukan pencariannya di Kasongan. Selain galeri dan pabrikan barang seni, Kasongan adalah rumah bagi banyak toko online yang sering kita jumpai di google seperti bintoro craft, dani craft, souvenir murah kasongan, lakeisha-souvenir, omah souvenir, kedai souvenir, dll.

Salah satu suvenir pernikahan kami, celengan
Harga souvenir di tempat ini sangat bersahabat seperti semua harga barang-barang di DIY yang kedap inflasi. Murah meriah. Kita bisa pusing memilih berbagai bentuk gerabah, undangan, kalender, kipas, gantungan kunci, peralatan dapur, cermin, pensil, dsb dengan harga mulai seribu rupiah saja.

Jadi, tunggu apalagi? Kapan berburu souvenir ke Bantul?

Author’s Note:

*Jika tak cukup sehari menentukan pilihan souvenir, Anda bisa menginap di beberapa guesthouse yang ada di Kasongan. Ada juga hotel praktik milik siswa-siswa SMK pariwisata Sewon tepat di jantung Kasongan yang harganya ekonomis. Berjalan-jalan saat subuh buta di Kasongan bagi saya cukup memacu adrenalin. Seolah-olah semar dan patung-patung pewayangan itu hidup dan menatap kita lekat-lekat di antara kabut yang entah datang darimana.

*Cara terbaik menjelajahi Kasongan adalah dengan menyewa motor, agar mudah berpindah dari satu galeri ke galeri yang lain.