Monday, 24 July 2017

Ranu Kumbolo Eksekutif

Pernahkah Anda, misal, terbiasa kemana-mana naik kereta super ekonomi, lalu tiba-tiba dapat gratisan, catat, G-R-A-T-I-S-A-N, pergi ke suatu tempat impian dengan kereta eksekutif, dengan dipenuhi semua kebutuhannya. Itu yang Saya rasakan ketika September 2015 lalu, bersama atasan Saya di kantor, mendaki ceria ke Ranu Kumbolo. Semuanya dibayari, tak ada tawar menawar angkot, tak ada desak-desakan di truk. Rasanya ada yang hilang.

Dalam tulisan ini tidak akan dijumpai rincian biaya perjalanan sebagaimana ciri khas tulisan backpacking saya yang lainnya. Alasannya, pertama, karena memang perjalanan ini sudah terlampau lama di tahun 2015 jadi sebagian besar harga pasti sudah berubah sehingga tidak relevan kalau diulas. Kedua, karena semua biaya kami sudah dibayari oleh atasan saya, jadi, saya sudah tidak terlalu ingat lagi. Begitu mudah melupakan gratisan. Hihi.

Perjalanan dimulai dari Surabaya hari kamis malam tanggal 10 September 2015. Sebelumnya kami ada acara kantor dari hari senin sampai kamis di kota itu. Tepat kamis tengah malam kami memesan taksi dari hotel ke terminal Bungurasih. Dari Bungurasih, kami naik bus ke terminal Arjosari di Malang. Adakah yang lebih seram daripada naik-bus-jawa-timur-an yang terkenal ugal-ugalan? Ada, naik-bus-jawa-timur-an-pas-tengah-malam. Rencananya sih kami tiduran di bus biar bisa fresh pas nanjak besok paginya, eh realisasinya kami terombang-ambing di atas kursi masing-masing sambil merapal doa-doa keselamatan.

Setibanya di Malang, kami naik angkot ke Tumpang dan berhenti sejenak di sana untuk sarapan dan membeli beberapa sayur dan bumbu dapur di pasar. Kami melanjutkan perjalanan ke Ranu Pani dengan men-carter jeep yang hanya diisi 5 orang. Teringat Semeru pertama dulu yang harus berdesak-desakan menumpang bak truk di tengah hujan bersama lebih dari 30an pendaki lainnya, perjalanan jeep ini terasa "aneh". 

Karena ini carter, perjalanan Tumpang ke Ranupani ditempuh dengan banyak perhentian. Kami banyak berfoto di tempat-tempat ikonik yang terinspirasi dari film 5 cm. Kebetulan juga jeep yang kami tumpangi  adalah jeep yang dipakai shooting film 5 cm dulu.
Di sepanjang jalan dari tumpang ke ranu pani...
Dari sini terlihat bromo dan lautan pasirnya.
Sampai Ranu Pani, kami disambut debu pekat yang beterbangan di musim kemarau. Kami rehat untuk sholat jumat di desa Ranu Pani. Usai sholat jumat kami mengurus simaksi yang telah kami persiapkan jauh-jauh hari melalui laman resmi TNBTS. Di pos lapor, kami mendengarkan prosedur keselamatan dan ceramah singkat petugas balai. 

Selanjutnya, pendakian dimulai. Wait, sebelumnya, perkenalkan tim pendakian kami. Ada Usman yang sudah jago naik gunung dan pernah punya pengalaman hampir ilang di Ciremai, ada Randy yang seneng bener foto-foto, ada Pak Syam yang dermawan dan selalu minta break setiap sepuluh menit, dan Zulham, yang menjadikan Ranu Kumbolo sebagai pendakian pertamanya. Zulham baru memutuskan mau ikut naik gunung setelah berfikir setahun penuh. Dia pikir naik gunung itu begitu menakutkan dan menyengsarakan hingga begitu sulit bagi kami untuk mengajaknya jalan-jalan santai sambil bawa carier. Saya akan banyak menceritakan perjalanan ini dari sudut pandang Zulham, sebab ia adalah pendaki pemula dalam rombongan ini sehingga relevan untuk dibaca bagi Anda yang baru akan memulai pendakian pertama kali.

meet the team: Usman, Ane, Pak Syam, Randy, Zulham
yang paling kanan katanya lagi cari jodoh

Pertama kalinya Zulham senyum-senyum setelah mengeluh terus sepanjang jalan
Lokasi: pos 5 dan sudah terlihat Ranu Kumbolo



Zulham sudah mengeluh pundaknya sakit bahkan sebelum masuk gerbang pintu pendakian. Rupanya memang carier yang cuma berisi sleeping bag dan air mineral serta kebutuhan pribadi lainnya itu terpasang ala kadarnya. Kami membenarkan strap cariernya dan perjalanan pun berlanjut. Beberapa kilometer selanjutnya dia terus bertanya, "masih jauh bro? sudah mau sampai kan?". Alih-alih menjawab, saya pun terus mengingatkan untuk tidak fokus pada oksigen yang tipis dan beratnya perjalanan, tapi "nikmatilah pemandangannya Bro, ini salah satu jalur pendakian gunung terindah lho..." tapi rupanya dia tetap banyak komplain. Zulham banyak tertolong oleh Pak Syam yang paling senior di rombongan kami. Beliau selalu mampir borong semangka kupas setiap ada yang jual. Jalannya baru seperempat jam tapi break nya setengah jam. Haha. Kami baru melanjutkan perjalanan kalau sudah kedinginan karena kelamaan duduk sambil nyemil semangka.

"Ane: Teman-teman, Selamat datang di Ranu Kumbolo, surganya Semeru*"
*ala Genta :'D 
Karena takut kemalaman, saya terus membujuk mereka untuk tetap berjalan melewati pos demi pos hingga akhirnya tiba di Ranu Kumbolo pukul 8 malam. Keempat teman saya langsung menggigil kedinginan dan bukannya banyak bergerak, mereka malah mau langsung meringkuk di balik sleeping bag.

Pagi harinya, mereka kegirangan dan tak henti-hentinya berfoto sana-sini dengan berbagai pose. Ranu Kumbolo seperti biasa, memang selalu indah. Zulham sudah melupakan saat-saat ketika kemarin dia mengeluh terus sepanjang perjalanan. Setelah sarapan, kami berkemas-kemas dan kembali turun pada pukul 9 pagi.
Syuruk di Kumbolo
Rupanya, perjalanan turun harus dimulai dengan menaiki punggung bukit yang mengelilingi danau terlebih dulu. Lagi-lagi kami break setiap beberapa menit dan setiap bertemu penjual semangka potong. Kalau dihitung sepertinya perjalanan turun kami tidak lebih cepat dibanding perjalanan naiknya. Hihi. Tak apalah, namanya juga jalan-jalan ala eksekutif.

Epilog: Setelah turun, Zulham sudah tidak takut lagi naik gunung. Namun, dia tetap lebih memilih untuk tidak naik gunung jika ada opsi itu. "mending main ke pantai" katanya, dan sekarang, dia benar-benar jadi anak pantai dengan mutasi ke Bali. 


Friday, 17 March 2017

Tugas Belajar Bersama



Kali ini Saya akan memosting tulisan yang bukan tentang jalan-jalan. Tulisan ini sebenarnya dimaksudkan sebagai kenang-kenangan untuk kami dan anak-anak kami kelak. Bahwa proses tumbuh kembang pertama yang mereka rasakan dulu saat baru lahir, dilalui bersama tugas-tugas paper yang datang silih berganti, dan proses belajar jalannya (ngelasut-merangkak-tatah) dilalui di tengah tumpukan kertas revisi-an skripsi yang memenuhi ruangan.

Highlight dari tulisan panjang ini adalah, Saya bersyukur sekali memiliki waktu dan kesempatan selama 1,5 tahun untuk membersamai istri dan anak. Waktu sebanyak ini adalah hal yang mahal bagi seorang PNS yang dijatah cuti tak lebih dari 12 hari dalam setahun. Banyak sekali hal menyenangkan selama di kampus, termasuk deadline tugas-tugasnya, ujiannya, sidangnya, dan tentu saja, skripsinya. Bahwa ungkapan “tidak ada hal yang lebih menyenangkan dibanding bangku sekolah” memang benar adanya. Semoga kita, Saya dan Anda, dapat segera mengenyam bangku sekolah lagi ya. 

Monday, 27 February 2017

Traveling After Marriage, Tips Jalan-Jalan Bersama Balita

Lagi-lagi saya ingin menegaskan bahwa menikah dan punya anak sama sekali tidak akan menghalangi kita untuk berpetualang. Sedikit perbedaannya mungkin akan ada pada pilihan destinasi saja. Kalau saat lajang, gunung akan memuaskan kita secara lahir batin, tetapi anak kita mungkin akan kedinginan dengan suhunya. Arung jeram mungkin memang seru, tetapi istri kita yang phobia air deras pasti cuma nunggu di basecamp saja. Kasihan kan... Padahal goal dari setiap wisata adalah semua menang, semua senang. Win win solution nya adalah dengan memilih tempat yang bisa dinikmati semua orang. Kebun binatang, Kebun Raya, Pantai, dan Gardu Pandang bisa jadi pilihan.

Membawa balita saat traveling perlu persiapan ekstra. Kalau untuk diri sendiri sih, tinggal bawa dompet, kamera, dan motor sih bisa langsung berangkat subuh-subuh mengejar matahari terbit. Kalau bersama balita? Anak kami sendiri, Hafsa, sudah beberapa kali diajak mudik sambil traveling sejak 2 bulan (mojokerto), 4 bulan (jogja), 6 bulan (bandung), dan seterusnya sampai sekarang 1 tahun lebih. Alhamdulillah sih beberapa kali sempat sakit juga di perjalanan, jadi kira-kira kami sudah memiliki sedikit pengalaman untuk dibagi. Berikut ini beberapa tips dan hal-hal yang perlu dipersiapkan ketika membawa balita di perjalanan.
with our 2 months babygirl in train trip to east java

Saturday, 25 February 2017

Traveling After Marriage- Tips Jalan-Jalan Saat Istri Sedang Hamil



Hobi jalan-jalan? Yaaaa. Senang dengan wisata adrenalin? Ya, saya juga. Merasa tenteram justru ketika di kendaraan perjalanan jauh alih-alih bersantai di rumah? Sama. Masih banyak tempat indah di Indonesia yang masih ingin dikunjungi? Tentu saja.

Pernah khawatir menikah dan punya anak akan memberhentikan petualanganmu? Haha, I did. Pernah punya teman yang sejak menikah susah diajak naik gunung? Pernah. So, masih mau menunda pernikahan dan punya anak? Hmm, maybe. But, sampai kapan?

Indonesia dengan 17.000 pulaunya, ngga akan habis kita kunjungi satu persatu selama 46 tahun, bahkan jika kita mengunjunginya setiap hari. Sementara, makin banyak tempat wisata baru yang muncul di media sosial. Contohnya, di Jogja yang sudah banyak tempat bagus saja, masih bisa bertambah tempat wisata baru seperti napak tilas lokasi selingkuh Rangga dan Cinta, Tebing breksi, Punthuk Mongkrong, Pantai Cemoro Sewu, daaan masih banyak lagi.

Wednesday, 31 August 2016

Visit Bantul: Hutan Pinus Mangunan

penuh aroma pinus
Mungkin agak telat saya memosting tuisan ini karena sejatinya, hutan pinus mangunan sudah sangat terkenal baik di blog, twitter, fb, apalagi path. Begitu banyak orang yang membahas tempat ini di media sosial. Jika Anda ingin mengunjunginya, silakan nyalakan aplikasi google maps dan ia akan mengantarkan Anda tepat di tujuan tanpa tersesat. Saya kesulitan mendeskripsikan arah suatu tempat karena memang rumit sekali menjelaskan setiap tikungan yang ada (apalagi seumpama saya tulis, trus ada yang baca blog ini sambil nyetir di jalanan imogiri; sangat tidak dianjurkan). Pada akhirnya saya lebih senang menyarankan Anda untuk memakai aplikasi penunjuk jalan saja.

Tuesday, 23 August 2016

Visit Bantul: Songgo Langit, Mangunan



Songgo Langit (per Agustus 2016) belum banyak dibahas di media sosial sehingga lokasinya masih relatif sepi. Selain karena masih baru, tempat ini letaknya berdekatan (tapi agak tersembunyi) dengan hutan pinus mangunan yang ramai itu. Padahal songgo langit sangat photogenic lho.

Setiap kali traveling ke suatu tempat, saya selalu tengok kanan kiri sembari berharap menemukan satu tempat menarik yang layak dikunjungi di luar daftar rencana yang telah saya susun pagi harinya. Terkadang saya menemukan satu atau dua pantai yang mempesona, kadang juga harus bertemu penduduk lokal yang mengancam-ancam pakai celurit agar segera pergi dari tempat itu. Pernah karena kejauhan buat balik lagi ke jalan raya sampai ngemper tidur di masjid, pernah juga ngikut ke rumah penduduk lalu ngga bisa tidur sampai pagi karena diceritakan urban legend soal orang-orang sakti yang bisa mencuri sapi sekandang tanpa diketahui jejaknya di kampung itu. Macam-macam lah…

Visit Bantul: Menikmati Pentol Bakso di Kebun Buah Mangunan



Kalau jaman dulu jargon wisata Indonesia era 2013 di iklan-iklannya adalah: “Wonderful Indonesia: Feeling is Believing”, nampaknya sekarang sudah tidak relevan lagi. Wisatawan (nasional) pada umumnya lebih senang berburu tempat-tempat yang selfie-able daripada tempat-tempat tenang yang memberikan kepuasan batin. Feeling itu nomer sekian ya, yang penting eksis. Level pencapaiannya dihitung dari seberapa banyak jumlah jempol dan komentar di media sosial sehingga foto terbaiklah yang dicari. Hal ini mendorong tumbuh pesatnya lokasi-lokasi wisata yang ikonik dan meninggalkan lokasi wisata yang terlalu mainstream di masa lampau.