Friday, 12 February 2021

Kegagalan yang Manis

Kita sadar bahwa terbit dan terbenam adalah sunnah kehidupan. Tidak ada yang abadi selain Allah. Namun, jika pun kita harus lenyap suatu saat nanti, pastikan kita menjadi uswah (teladan) bagi orang lain, bukan ‘ibroh (pelajaran) bagi mereka. (https://www.hidayatullah.com/)

Disclaimer: ini adalah sudut pandang dan idealisme versi penulis. Semoga ada yang mendapat sesuatu dan tidak ada hati yang tersakiti setelah membaca ini.

Banyak orang bersedih ketika tidak mendapatkan apa yang diimpikannya, termasuk saya. Beberapa orang memerlukan waktu cukup lama untuk sembuh, sementara beberapa yang lain membiarkan air matanya mengalir sambil berjalan tertatih ke arah yang lain. Saya termasuk golongan yang kedua. Meskipun demikian, tak dapat dipungkiri bahwa kegagalan atas sebuah perencanaan yang panjang dan matang tetaplah menyakitkan. Kemudian sampai pada suatu waktu, kita akan melihat ada banyak hal baik di balik kegagalan itu. Ternyata, rencana yang kita anggap sempurna itu menyimpan banyak lubang yang hanya mampu Allah lihat. Melalui kasih sayang-Nya lah kita akhirnya bisa melihat bahwa hidup kita akan lebih baik jika kita berbelok sedikit dari angan-angan.

"Aku ingin begini, aku ingin begitu, ingin ini ingin itu banyak sekali...". Begitulah penggalan lagu OST Doraemon versi bahasa Indonesia yang dulu sering kita dengar. Pun demikian dengan saya yang kalau dipikir-pikir, banyak sekali maunya. Jalan pintas kantong doraemon seringkali justru menyenangkan pada awalnya, tetapi menyedihkan pada akhirnya. Film-film dalam banyak episode doraemon sejatinya mengajarkan kita agar lebih sabar dengan proses dan menghindari jalan pintas.

Untuk kepentingan pengembangan diri sendiri, setelah lulus d4, saya bagaikan Nobita yang kalau dijabarkan secara singkat keinginan utamanya sebagai berikut:

  1. Secepatnya, setelah eligible, ambil Master di luar negeri;
  2. Harus bersama istri dan anak-anak (FYI, anak saya 2 otw 3 saat itu);
  3. Istri kuliah bareng juga;
  4. Ingin mengajari anak-anak dengan bahasa dan budaya Jawa sebagaimana Bapak Ibunya dulu;
  5. Ingin merasakan tinggal di homebase dan Jogja bersama orang tua;
  6. Saat kuliah master, harus punya jurnal yang published.
"Pokoknya kuliah ke luar negeri, titik". Begitu tekad saya saat itu sehingga semua daya dan upaya yang saya miliki dikerahkan untuk hal tersebut. Mulai dari kulik-kulik success story ke senior berprestasi di kantor tiap saat tiap waktu (sampai kadang bosan dengerinnya, tapi nggak juga sih, kan emang pengen banget), belajar TOEFL/IELTS, browsing-browsing kampus impian, hingga pasang berbagai suvenir tempelan magnet dari senior yang pulang studi dari luar negeri di PC dan kulkas.

Selain itu, saya juga tidak bisa jauh-jauh dari istri dan anak-anak karena selama ini memang mereka lah penyemangat dan pelipur lara di kejamnya Jakarta. Well, Jakarta aja kejam, gimana nanti di luar negeri? Gak ada nasi uduk atau mi ayam goceng, bisa tak stabil jiwa ini kalau tak bertemu senyum dan canda tawa mereka.

Menurut utopia saya, pasangan kita tuh memiliki kesempatan pengembangan diri yang sama dengan diri kita. Saya tak mau egois ketika saya mengejar pendidikan, tetapi malah menyuruh istri cuti di luar tanggungan negara agar bisa ikut dengan saya kuliah ke LN. Udah nggak dibayar, kenaikan gaji berkala di-suspend, belum lagi kebayang gimana awkward nya nanti balik ke kantor dengan argo mulai nol lagi kayak isi bensin di pertamina. Jadi, parameter keberhasilan saya adalah, tidak hanya saya yang dapat beasiswa, tetapi istri juga harus dapat, dan harus BARENG. Ya, bareng, biar kita bisa berangkat bersama tanpa ada hati yang terluka-tsaah.

Saya juga sangat ambis dengan menginginkan anak-anak agar mengenal budaya Jawa. Pokoknya mereka harus mencicipi pendidikan di Jogja/Jatim, entah bagaimana caranya. Cukup tempat lahir mereka saja yang tercatat di Jakarta pinggiran, sikap dan moral kalau bisa masih menjunjung tinggi sopan santun khas orang Jawa. Tidak bermaksud rasis sih, tetapi masing-masing budaya daerah menurut saya punya keunggulan kompetitif. Seperti anak-anak Jakarta yang tangguh, anak-anak Sumatera Utara yang pemberani, atau anak-anak Makassar yang pintar berargumen.

Sepuluh tahun lebih tinggal di Ibukota membuat kami juga sangat rindu menghabiskan waktu menemani orang tua yang benar-benar mulai menua di kampung halaman. Saya banyak melihat quote dari orang-orang bijak yang mengatakan "Tak ada yang lebih berharga bagi orang tua selain kau temani mereka". Saya sependapat dengan pandangan ini dengan berlogika bahwa anak-anak saya juga begitu. Mereka selalu ingin ditemani kapanpun dimanapun. Semakin tua seseorang kan psikologisnya semakin mirip anak-anak kan?

Nah sampailah pada target terakhir yaitu, kalau misal saya lulus beasiswa ke LN, pokoknya saya ingin nama saya tercatat sebagai author tulisan ilmiah di beberapa prosiding jurnal supaya tulisan saya tidak melulu tentang hal absurd seperti tulisan di blog ini saja. Sayangnya, kebanyakan success story senior saya tidak mengandung cerita kesuksesan mereka di bidang akademik ataupun bidang penulisan. Malahan banyak yang ambil coursework yang jarang nulis dan publikasi. Padahal kan saya pingin punya kenang-kenangan karya abadi yang bermanfaat bagi umat manusia. Hehe, lebay sih, gpp, kan namanya impian.   

Long Short Story, datanglah sebuah kesempatan untuk mendaftar beasiswa X. Allowance nya besar, jadi saya bisa bawa keluarga (besar) saya. Sayangnya istri tak bisa daftar karena TOEFL nya tidak memenuhi syarat. Dari sini kacau lah impian 3-6 yang saya sebutkan di atas. Pikir saya saat itu, gpp deh yang penting masih ada 2 impian (nomor 1 dan 2) yang saya perjuangkan. Pagi siang malam saya pergunakan dengan optimal untuk mempersiapkan beasiswa itu, hampir setengah tahun penuh. Ditambah dengan proses beasiswa yang lama, kira-kira 1 tahunan waktu yang saya habiskan untuk beasiswa X tersebut.

Ndilalah ketika pengumuman, saya nggak lulus di tahap awal. Sedih lah saya saat itu membayangkan banyaknya energi yang dialokasikan untuk mengejar beasiswa ini. Pecel langganan di belakang kantor yang biasanya rasanya  hambar jadi makin hambar.

Di saat bersamaan, ada penawaran beasiswa lain, dalam negeri, yang hampir tutup pendaftarannya. Tak ingin berlarut-larut dalam kesedihan, dalam keadaan setengah sadar saya mendaftar beasiswa tersebut di UGM. Setelah mengikuti berbagai tahap seleksi dan alhamdulillah lulus, saya baru tersadar, kan cita-citaku kuliah di LN, kenapa daftar beasiswa DN? Aduh, ini mah melenceng jauh sekali. Dan saya pun kembali galau menjalani hari-hari.

Kemudian pandemi datang, para pekerja kantoran dipaksa bekerja dari rumah. Banyak border negara tujuan beasiswa LN menutup diri untuk pelajar dari Indonesia. LPDP menghimbau untuk tidak membawa keluarga ikut serta bagi awardee LN. Istri melahirkan anak ketiga sambil mendaftar beasiswa di kampus yang sama dengan saya (dan alhamdulillah lulus juga - insyaAllah akan diceritakan kemudian). Sekolah di Indonesia (untuk pelajar dari PAUD hingga Universitas) dihimbau secara daring. Jabodetabek lockdown mulai 14 September 2020.

Alhamdulillahilladzi bi nimatihi tatimmush sholihat - Segala puji hanya milik Allah yang dengan segala nikmatnya segala kebaikan menjadi sempurna.

Kegiatan sehari-hari anak-anak kami.
Main pasir dari satu pantai ke pantai lainnya.


Kemudian, di sinilah kami. Kuliah magister bareng istri di UGM. Di kampung halaman, dengan anak-anak yang sekolah daring di Jogja, mendapatkan kurikulum sesuai cita-cita kami, menemani orang tua, setiap hari menghirup udara segar pedesaan. Satu jurnal yang lama terlupa saat ini sedang naik cetak, dan satu jurnal kerjasama dengan teman seperjuangan telah terbit prosiding.

Masya Allah.

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al Baqarah: 216).


Tangunan, 12 Februari 2021

No comments:

Post a comment