Friday, 17 March 2017

Tugas Belajar Bersama



Kali ini Saya akan memosting tulisan yang bukan tentang jalan-jalan. Tulisan ini sebenarnya dimaksudkan sebagai kenang-kenangan untuk kami dan anak-anak kami kelak. Bahwa proses tumbuh kembang pertama yang mereka rasakan dulu saat baru lahir, dilalui bersama tugas-tugas paper yang datang silih berganti, dan proses belajar jalannya (ngelasut-merangkak-tatah) dilalui di tengah tumpukan kertas revisi-an skripsi yang memenuhi ruangan.

Highlight dari tulisan panjang ini adalah, Saya bersyukur sekali memiliki waktu dan kesempatan selama 1,5 tahun untuk membersamai istri dan anak. Waktu sebanyak ini adalah hal yang mahal bagi seorang PNS yang dijatah cuti tak lebih dari 12 hari dalam setahun. Banyak sekali hal menyenangkan selama di kampus, termasuk deadline tugas-tugasnya, ujiannya, sidangnya, dan tentu saja, skripsinya. Bahwa ungkapan “tidak ada hal yang lebih menyenangkan dibanding bangku sekolah” memang benar adanya. Semoga kita, Saya dan Anda, dapat segera mengenyam bangku sekolah lagi ya. 


Kami berdua mulai tugas belajar diploma 4 pada pertengahan September 2015 di kampus yang sama, Politeknik Keuangan Negara STAN, Tangerang Selatan. Bagi istri, ini adalah hadiah terindah yang sangat ia nantikan. Pasalnya, istri saya sedang hamil anak pertama dengan usia kehamilan kurang lebih enam bulan. Berangkat kantor setengah enam pagi dan sampai rumah lepas isya membuatnya berdoa siang malam agar lulus ujian saringan masuk diploma 4. Kami pun sepakat bahwa soal ujian yang sulit tersebut harus dihadapi dengan belajar keras sebelumnya. Sayangnya, efek kehamilan yang dirasakan istri tergolong unik. Ia bisa tidur kapan saja, dimana saja, dan selama apapun. Saya selalu mendapatinya tertidur di atas buku-buku hanya beberapa menit setelah kami berniat buka buku materi. Begitu seterusnya hingga menjelang ujian. Hasilnya, dapat ditebak. Ia gagal tes tulis dan alhamdulillah Saya masih lolos ke tahap selanjutnya, psikotes.

Selama psikotes saya menghadapi setidaknya tiga tekanan di luar soal psikotes itu sendiri. Kantor yang beberapa hari sebelumnya sedang banyak-banyaknya lembur, waktu pelaksanaan ujian yang bersamaan dengan diklat fungsional, dan istri yang ngambek karena harus berangkat kantor pagi itu sementara saya ujian psikotes. Kalau bisa Saya istilahkan, Ia sedang bingung menentukan sikap. Di satu sisi berbahagia, di sisi lain sakit hati sebab keinginannya untuk D4 jauh lebih besar daripada Saya, "kok malah abi yang lulus ya Allah...".

Alhamdulillah akhirnya saya lulus ujian dan dapat mulai kuliah sekitar sebulan lagi di September 2015. Di tengah istri yang sedang dilema, antara turut berbahagia atau sedih karena membayangkan saya bisa bersantai di rumah di sela-sela jadwal kuliah sementara ia harus berangkat pagi pulang petang, ada beasiswa yang memberikan pilihan kampus yang sama. Syaratnya mudah saja, melampirkan hasil tes TOEFL dan TPA. Lagi-lagi Saya harus selalu menungguinya belajar bahasa inggris dan latihan soal TPA agar tak terus-terusan tertidur. Singkat cerita, Ia pun lolos seleksi meskipun dengan nilai TOEFL dan TPA yang tipis sekali dengan passing grade. Yah, dengan demikian kami sah menjadi pasutri tubel.

Kejutan selanjutnya datang dari kampus. Lokasi kuliah kami dipindah dari bintaro Tangerang selatan ke Purnawarman (sekitar blok M). Artinya, setiap hari kami harus naik motor dan saling menunggu jadwal kuliah kami yang berbeda. Kadang istri kuliah pagi dan Saya kuliah sore. Ini artinya kami tetap berangkat setengah tujuh pagi dan pulang lepas jam empat sore. Hampir setiap hari saya tiduran di sembarang tempat di kampus Purnawarman menunggu istri selesai kuliah. Saya jadi berteman akrab dengan OB gedung di sana karena sering ketiduran di kelas kosong.

Dua bulan berlalu dan sampailah ke minggu-minggu menjelang HPL. Setiap hari Saya membawa perlengkapan lengkap lahiran istri di dalam tas kuliah ditambah bantal duduk untuk istri. Persis seperti mahasiswa kutubuku karena tasnya yang terlihat sangat penuh.

Lahiran anak pertama bertepatan dengan akhir jadwal Ujian Tengah Semester. Beruntung saat itu hanya tersisa satu mata kuliah dengan ujian take home exam. Sehingga istri yang baru dua hari pasca lahiran dapat saya tuntun untuk melakukan presensi ujian dan mengumpulkan tugas via email.

Saat tugas belajar, diperkenankan cuti selama satu semester. Namun, karena kurikulum istri adalah beasiswa, Ia dilarang cuti karena kuliahnya harus selesai dalam 1,5 tahun. Jadilah istri tetap kuliah rutin hanya 2 minggu setelah melahirkan. Luar biasa ya? Tapi banyak kok kasus yang seperti itu. Bahkan beberapa teman tetap ujian beberapa hari pasca operasi Caesar. Hmm, lihatlah perjuangan ibu-ibu kalian Nak. 

Kesibukan kami beberapa bulan berikutnya berkutat dengan tugas kuliah yang berusaha ala kadarnya kami penuhi di tengah keasyikan kami berlama-lama menemani si kecil di kasur. MasyaAllah, lucu sekali bidadari kecil kami, Hafsa Tsabita Athoillah. Ia memfasilitasi istri yang hobi tidur sejak masa kehamilan dengan terus-terusan minta nenen kalau istri sedang di rumah. Jadilah mereka berdua tidur sebanyak dan sesering mungkin. Tak jarang saya yang panik melihat deadline tugas istri yang masih belum disentuh sedikitpun padahal akan dikumpul besok pagi. Banyak obrolan grup whatsap istri untuk tugas kelompok yang saya balas mewakili istri yang tengah tidur pulas bersama Nak Hafsa. 

Memang sejak anak kami lahir, “belajar” tidak menjadi prioritas kami. Hihi, padahal judulnya “tugas belajar” kan ya… Effort kami hanya sebatas hadir di ruang kelas sebelum dosen melakukan cek presensi saja. Sering sekali saya terlambat setengah atau satu jam di kuliah pagi.

Sedihnya, dengan porsi belajar yang hampir nihil bahkan saat ujian sekalipun, Indeks Prestasi istri di semester 8 dan 9 masih lebih baik daripada nilai Saya. Kesimpulan sederhananya, breast feeding itu adalah kegiatan yang sangat mulia. Jangan takut Ibu-Ibu menyusui yang sedang tugas belajar, untuk kehilangan apa yang bukan menjadi prioritas Anda (belajar), sebab, jika Allah ridho, tak ada yang mustahil bagi Nya. Allah lah yang maha berkehendak atas segala sesuatu.

Tugas belajar ini berlalu begitu cepat. Saya selalu sedih setiap ujian tiba. Duh, perasaan kemarin baru UTS, kok sekarang sudah UAS. Anak kami masih terlalu kecil kalau tugas belajarnya selesai nanti. Bisa extended nggak ini tubelnya?

Semester terakhir kami hanya diisi 2 mata kuliah dan tugas skripsi. Beruntung kami mendapatkan dosen pembimbing yang sama. Istri Saya memaksa agar mengambil mata kuliah skripsi yang sama agar proses ke depannya lebih efisien. Jadilah Saya banting setir dari tema pajak ke sistem informasi yang sebetulnya menjadi kelemahan Saya. Alhamdulillah banyak pertolongan dalam penyelesaian skripsi ini. Istri? Hmm, kegalauannya meningkat seratus persen menjelang batas pengumpulan proposal, sidang proposal, pengumpulan skripsi, revisi dosen teknis, sidang skripsi, dan sidang komprehensif. Rasanya, seperti memikirkan dua skripsi. Hafsa jadi lebih sering berangkat ke daycare baitul maal beberapa pekan menjelang deadline.

Tibalah akhirnya, sidang skripsi dan komprehensif yang menentukan kelulusan kami. Hari demi hari terlewati dan semakin mendekati hari H, 19 Januari 2017. Namun, tak banyak yang dapat kami pelajari mengingat kami lebih senang bermain bersama sang buah hati daripada berkutat dengan buku-buku materi. Saya teringat pesan senior yang dulu dimintai nasihat/ tips agar mampu melewati skripsi dan sidang dengan lancer, jawabnya “perbanyak aja bersedekah dan berbuat baik, apapun itu bentuknya”. Pesan ini kami percaya sebagai langkah yang lebih masuk akal ketimbang membaca puluhan materi kuliah selama d3 dan d4 di PKN STAN. Hasilnya, alhamdulillah kami berdua lulus dengan predikat “dengan pujian”.

Sungguh kami sangat menyukai tugas belajar. Ini adalah rekreasi terlama yang pernah kami rasakan. Saya menyadari bahwa menghabiskan hari-hari bersama sang buah hati adalah nikmat yang kurang lebih sama seperti naik gunung. Keduanya sama-sama membuat badan pegal-pegal. Tapi senyum dan canda tawanya adalah bonus sunrise yang indah setelah perjalanan panjang meniti setapak. Saya sependapat dengan tulisan seseorang di facebook beberapa hari lalu:

“Sejatinya dalam pengasuhan, bukan kita yang menghibur anak kita, tetapi merekalah yang justru menghibur kita dengan canda tawanya. Kita banyak berbuat salah pada mereka, tetapi mereka tiada hentinya membalas kita dengan canda tawa dan kebahagiaan dalam rutinitas harian kita yang memenatkan. Kita berhutang banyak pada mereka.”

Terakhir, tulisan ini dibuat di saat kami menunggu wisuda di 22 Maret 2017 nanti. Ada yang bergejolak dalam dada. Rasanya begitu sulit membayangkan kami akan segera kembali ke dunia nyata lagi, berangkat ke kantor jam setengah enam pagi dan sampai rumah lepas Isya. Hanya bisa mencium pipi anak kami banyak-banyak saat ia sudah mengantuk sebagai bentuk permohonan maaf dan perasaan bersalah telah meninggalkannya seharian di daycare.

Ah sudahlah, tak baik membicarakan hal yang masih belum terjadi. Semoga kami semua mendapat solusi terbaik dari keadaan yang akan kami hadapi kelak. Yang jelas, kami sangat bersyukur mendapat 1,5 tahun ini untuk memberikan pengasuhan dini hampir 24/7 bagi anak kami. Terimakasih Ya Rabb, Terimakasih PKN STAN, Terimakasih Kemenkeu, Terimakasih Semuanya. Semoga kita semua dimudahkan untuk tubel lagi ya… Aamiin…
Alhamdulillah, semoga bisa tubel bersama lagi...
Alhamdulillah, Gedung G, 15 Maret 2017


No comments:

Post a Comment