Wednesday 10 December 2014

Rinjani: Pendakian Gagal Pertama sekaligus Paling Berkesan (Bagian 3-Habis)

Hari itu saya mengambil keputusan paling menyesakkan dalam hidup. Memutuskan turun meski puncak tinggal sebukit gundukan pasir saja… Gunung itu adalah gunung yang sama esok, lusa, dan seterusnya. Tak kan lari ia dikejar selama masih ada kesempatan. Dan kesempatan itu baru saja kami ciptakan dengan memutuskan untuk turun, yang artinya kami masih hidup.

Saya lupa tepatnya, pukul berapa kami tertidur, yang jelas baru pukul 6 pagi kami terbangun dan mendapati pagi yang berkabut dan gerimis. Masih sama seperti kemarin. Pucuk pucuk pohon pinus bergoyang-goyang tanda angin masih kencang di luar sana.

Beberapa pendaki keluar dari tendanya, saling menyapa untuk memastikan semuanya baik-baik saja pasca badai yang mencekam semalam meski sambil menunjuk-nunjuk betapa jeleknya bentuk tenda mereka setelah pasaknya bertahan sekuat tenaga agar tak tercerabut dari tanah Pelawangan Sembalun yang tipis akibat abrasi angin.

Saya bergidik ngeri melihat jurang dan segara anakan yang ada di bawah. Membayangkan kembali kemungkinan semalam tenda kecil kami terbawa angin dan tercebur sempurna ke danau, beserta isinya tentu.

Setelah matahari agak tinggi, kabut mulai naik dan menghadiahkan sinar-sinar jingga yang hangat. Membuat tubuh, jaket, tenda, dan semua permukaan tanah menguap. Ahh, hangat sekali. Sejenak terbersit iri kepada pendaki yang memilih waktu yang tepat di musim kemarau. Pasti mentari yang hangat akan mengiringi perjalanan mereka sepanjang hari.

Ada sejenak masa ketika (hampir) semua kabut terangkat sempurna. Menyajikan indahnya Segara Anakan, jalur pendakian Senaru di seberangnya, dan tentu saja, bukit pasir yang mereka sebut puncak. Kami akan kesana nanti, ketika angin sudah tak kencang lagi, ketika gerimis sudah tak cenderung menjadi hujan, dan ketika semangat terisi kembali. Ah ya, sudah waktunya makan pagi.

Kami bergegas mengumpulkan bahan makanan ke satu tenda, menyalakan kompor dan bersiap menanak nasi di depan tenda. Lalu tiba-tiba angin kencang kembali menerbangkan pasir membuat air rebusan kami bercampur pasir. Semakin lama angin semakin kencang dan betapa tak terkejutnya saya ketika menyibakkan pintu tenda, kabut telah kembali mengungkung sekitar. Putih, Gelap. Saya tak perlu kaget kalau hujan pun akan segera turun.

Kami menggigil mengelilingi kompor. Meski di dalam tenda, nasi yang kami masak tak kunjung matang. Badai mulai berisik kembali di luar membuat kami berempat berkumpul satu tenda dalam diam. Berkecamuk dengan pikiran masing-masing. Mau apa setelah ini?

Memandangi Segara Anakan
untuk terakhir kalinya sebelum turun
See You Again 
Usai makan, kami keluar dalam gerimis, mencari informasi mengenai alternatif apa yang akan kami lakukan. Tenda bule sebelah yang semalam diterbangkan angin sudah tak ada. Mungkin sejak pagi tadi memang sudah tak ada, berkemas turun, hanya kami saja yang tak sadar gerak cepat mereka.

Kami bertanya teman di tenda yang lain, katanya mereka akan menanti lagi sehari kalau-kalau cuaca membaik. “Jadi, kalian akan tinggal di tenda ini lagi nanti malam? Di bibir jurang ini? Dengan kemungkinan badai yang sama seperti tadi malam?” Iya begitulah, semoga nanti cerah, kata mereka mengambang. Kami melanjutkan mencari penguatan alasan untuk tetap menginap di sana semalam lagi. Alih-alih mendapatkan jawaban meyakinkan, malah kami dianjurkan para porter untuk segera turun mengingat angin yang semakin kencang. Ditambah lagi ada beberapa pendaki yang nekat naik sejak dini hari sampai pukul 9 belum balik sementara puncak sudah sempurna tertutup kabut.

Meniti Punggungan Pelawangan Sembalun
Singkat cerita, saya putuskan untuk turun setelah menimbang-nimbang keselamatan rombongan. Saya tak mau bersikap oportunis terkait nyawa ketiga teman saya. Dalam gerimis kami berkemas. Lama kami kesulitan melipat tenda yang basah dan tertiup angin kencang. Akhirnya setelah sekian puluh menit, sebuah keril yang basah menggembung siap dibawa turun. Perjalanan turun tak kalah ‘menyesakkan’ dibanding perjalanan naiknya dengan hujan yang tak kunjung jeda serta kaki yang kram dan lecet dimana-mana. Hujan baru mengecil selepas Pos III. Selama perjalanan dari Pos III ke Pos II, kami baru menikmati perjalanan dengan pemandangan bukit teletabis yang luar biasa indahnya di sekeliling. Due on that, suddenly I whispering: MasyaaAllah, Lombok is a blessed island.

The Blessed Island
Pos III ke Pos II
Sebelum sampai Pos II, kami bertemu serombongan pendaki (15 orang) dari Johor Bahru dengan 2 guide yang dibawa dari ekspedisi Gunung sebelumnya: Kerinci dan Semeru, serta beberapa porter lokal yang dibawa dari kaki Sembalun. Mereka ramah dan terus menerus berbagi pengalaman pendakian sepanjang perjalanan sekalipun terdapat banyak salah paham bahasa dimana-mana ketika kami bercakap-cakap dengan bahasa Melayu. Akhirnya, kami sepakat bahwa menggunakan bahasa Inggris malah lebih nyambung. Yang paling membuat kagum adalah mereka bilang, seperti kata pendaki asing lainnya kemarin-kemarin, “Malaysia tak punya volcano, Indonesia is the best lah kalau untuk pendakian volcano. Tapi you nak mesti cuba hike Kinabalu, come Malaysia lah” tetep, endingnya jualan. Kami salut dengan mereka yang sudah datang dari jauh mengagendakan secara rutin mengunjungi gunung-gunung berapi di negara kita.

Karena terus bercerita di sepanjang jalan, kami tak menyadari kalau langkah rombongan ini cepat sekali sampai harus lari-lari kecil di banyak kesempatan untuk mengimbangi agar tetap berada di rombongan tersebut. Sudah pukul 18 sejak kami turun di Plawangan Sembalun tadi pukul 9 pagi. Artinya, sudah sekitar 9 jam kami turun tapi belum ada tanda-tanda akan sampai. Selepas Pos I, saya pura-pura mengambil senter dan mempersilakan rombongan Malaysia tersebut untuk melanjutkan dahulu. Fyuh, akhirnya ngga perlu lari-lari lagi. Iya mereka enak nggak bawa keril, cukup bawa badan saja. Lha kami?

Tinggal kami berempat di Pos I, kami melanjutkan perjalanan dalam gelap dan dalam diam. Rasanya fisik semakin lemah kalau nggak ada yang ngajak ngobrol. Sejam terakhir, sudah tak terhitung berapa kali kami terjungkal-jungkal karena kelelahan. 100 meter terakhir teman saya terduduk tak kuat lagi melangkah. Kami harus berhenti cukup lama, menyeretnya selangkah demi selangkah. Cahaya lampu pemukiman dan ladang penduduk tak pernah tampak begitu menentramkan kecuali saat itu. Alhamdulillahirobbilalamin. Terimakasih ya Rabb, saya membawa naik 3 teman dengan sehat dan kembali membawanya turun dengan selamat meski beratnya perjalanan yang kami lalui. Fix, ini adalah pendakian paling berkesan saya sejauh ini. Akhirnya, saya bisa mengerti, kenapa ada orang yang sudah melakukan persiapan naik gunung dari jauh-jauh hari dengan matang tetapi tetap gagal summit. Akhirnya juga, saya bisa merasakan sendiri badai di atas gunung seperti yang kebanyakan diobrolkan para pendaki gunung.

Epilog:
Seorang teman yang kami kunjungi di Mataram tidak percaya ketika kami katakan baru mendaki Rinjani. “di koran yang kubaca tadi pagi, ada berita Rinjani ditutup lebih awal lho… tanggal 26 Desember udah ditutup karena badai beberapa hari terakhir. Kok bisa kalian naik? Bohong nih…”

Saya tersenyum saja sambil berujar dalam hati “bagus lah kalau ditutup, kami ada di atas sana semalam, tanggal 26 Desember”

Monday 8 December 2014

Our Wedding Invitation

it was easy...
credit to: Moh. Zainul R.
 بَارَكَ اللهُ لَكَ وَبَارَكَ عَلَيْكَ وَجَمَعَ بَيْنَكُمَا فِي خَيْرٍ

baarakallahu lak, wa baaraka ‘alaik, wa jama’a bainakuma fii khair


“Semoga Allah memberi berkah padamu di saat rumah tanggamu dalam keadaan harmonis, dan semoga Allah (tetap) memberi berkah padamu di saat rumah tanggamu terjadi kerenggangan (terjadi prahara), dan semoga Dia (Allah) mengumpulkan kalian berdua dalam kebaikan” 

(HR. Abu Dawud (1819), Tirmidzi (1011), dan yang lainnya, dishohihkan oleh Albani)
Bantul DIY, Ahad, 28 Desember 2014
Bagaimana cara ke sana:

"Gunungsaren Lor RT 80 Kel. Trimurti, Kec. Srandakan, Kab. Bantul, DIY"


Kendaraan Umum

Dari Terminal Bus Giwangan Umbulharjo: naik bus jurusan Srandakan (Bus B atau Bus 55) turun di RS PKU Srandakan. Tinggal jalan kaki sekitar 10 menit ke arah TK ABA Gunungsaren. [Estimasi biaya Rp 10.000 dengan lama perjalanan kira-kira 70 menit]

Dari Stasiun Kereta Api Lempuyangan: naik ojek ke Terminal Giwangan, Lanjut dengan Bus B atau Bus 55 seperti di atas. [Estimasi biaya Rp 25.000 (ojek 15.000) dengan lama perjalanan kira-kira 85 menit]

Dari Stasiun Kereta Api Tugu: naik bus Trans Jogja rute 1A, 1B, atau 3A ke Terminal Giwangan. Lanjut dengan Bus B atau Bus 55 seperti di atas. [Estimasi biaya Rp 13.000 dengan lama perjalanan kira-kira 100 menit]

Dari Stasiun Wates, Kulon Progo: naik ojek motor ke alamat tersebut di atas. [Estimasi biaya Rp 50.000 dengan lama perjalanan kira-kira 20 menit]

Dari Bandara Adisucipto: naik bus TransJogja rute 1A, 1B, atau 3A ke Terminal Giwangan. Lanjut dengan Bus B atau Bus 55 seperti di atas. [Estimasi biaya Rp 13.000 dengan lama perjalanan kira-kira 100 menit]


Sewa Motor/ Kendaraan Pribadi

Sewa motor langganan kami, Resmile Rental (CP: 085643107277) berkenan mengantar motor sewaan (lengkap dengan 2 helm, jas hujan, dan gembok ekstra) sampai tempat perjanjian dengan gratis selama Anda berada di dalam area ring road DIY, Stasiun Lempuyangan atau Terminal Giwangan, misalnya. Dengan biaya Rp 70.000,00 Anda berhak menggunakan motor-motor (yang masih bagus kualitasnya) selama 24 jam penuh. Reservasi segera, sebab, di akhir pekan/ musim liburan, agak sulit mencari rental motor yang masih available. Informasi rental motor lainnya, bisa dicari melalui pencarian di laman google.com

Rute Dari Malioboro/ Stasiun Tugu/ KM 0, berbelok ke barat di Jalan Ahmad Dahlan, lalu belok kiri di sepanjang jalan Taman Sari untuk menuju Jalan Raya Bantul. Lurus saja ke selatan sampai menemui SMAN 1 Bantul dan tak jauh dari itu, ada perempatan yang di papan penunjuknya tertulis ke kiri Pantai Parangtritis, lurus Pantai Samas, kanan Srandakan/ Wates. Ambil arah kanan sampai sekitar 4 km lagi. Ketika masuk desa Trimurti, pelankan laju kendaraan Anda, sebab Anda harus belok ke gang di sebelah kanan jalan. Tetap lurus di gang tersebut sampai menemukan SDN Gunungsaren. Rumah kami terlihat dari pintu gang SDN Gunungsaren. 

Bagi Anda pengguna Smartphone, Anda bisa menggunakan aplikasi google maps atau here maps dari Nokia. Masukkan beberapa detil bermakna yang biasa kami gunakan untuk menuju ke sana: KUA Kecamatan Srandakan, TK ABA Srandakan, Trimurti, Srandakan.

Punya Waktu Luang Setelah/ Sebelum Acara, Kemana?

Izinkan kami mengucapkan, selamat datang di kawasan wisata terpadu, Yogyakarta, yang bahkan hanya dengan berjalan-jalan sekenanya di trotoar kotanya saja telah mampu membuat Anda tersenyum bahagia. Tak berlebihan rasanya, sebab warga Yogya akan refleks menyapa dan tersenyum kepada Anda yang sedang berjalan-jalan tadi, sehingga otomatis, Anda berkewajiban membalas senyum mereka juga kan.

Acara kami dilangsungkan di penghujung tahun yang berada di deretan libur panjang 25,26,27, dan 28 Desember 2014. Jika Anda punya banyak waktu sebelum atau sesudah tanggal 28 Desember, Anda bisa memilih beberapa alternatif tempat wisata yang banyak bertebaran di seluruh penjuru DIY.

Pantai:
Kami rekomendasikan untuk ke pantai-pantai di Gunungkidul yang masih relatif sepi seperti Pantai Wediombo dan Jungwok, Indrayanti, Pok Tunggal, Siung, Baron, Sundak, dsb. Selain itu, Pantai-Pantai di Bantul pun juga layak untuk dipilih seperti nostalgia di Pantai Paragtritis dan Seluncur Pasir di Gumuk Parangkusumo atau wisata kuliner seafood segar di Pantai Depok. 

Goa:
Sebagai informasi, kawasan pegunungan kapur di selatan DIY saat ini sedang dalam proses penilaian UNESCO untuk didaftarkan sebagai Taman Geopark Dunia. Terbayang kan betapa banyak goa-goa eksotis di selatan DIY akibat pembentukan stalagtit dan stalagmit  ratusan tahun.Kunjungi Goa Pindul, Goa Jomblang, dan Goa Kalisuci di Gunungkidul, atau Goa Cerme di Bantul. Nikmati juga body rafting di Goa Pindul dan Kalisuci yang cukup menantang adrenalin.

Air Terjun:
Air terjun Sri Gethuk sangat kami rekomendasikan untuk dikunjungi. Kabarnya, Sri Tanjung di Dlingo, Bantul pun sedang ramai dibicarakan orang karena digunakan sebagai lokasi syuting film "beyond skyline" nya Arnold Schwarzenegger.

Gunung:
Gunung Merapi dengan waktu pendakian 2 hari, nampaknya pas dengan agenda akhir tahun. Nikmati trek pasir dan pemandangan spektakuler dari gunung kebanggaan masyarakat Yogyakarta tersebut.

City View:
Yogya adalah juaranya dalam hal ini. Semua tempat begitu indah dan menarik untuk dieksplor. Berjalanlah di sepanjang trotoar malioboro, KM 0, Alun-alun kidul, dan taman sari. Nikmati keramahan budaya lokal, kearifan penduduknya, dan kelezatan masakan tradisionalnya. Sebut saja, Mangut Mbah Marto, Mie Lethek Mbah Mo, Ayam Goreng Mbah Cemplung, Gudeg Yu Jum, Tempe Bacem Beringharjo, Soto Lenthok Lempuyangan, atau Kopi Jos dan Sego Kucing di sepanjang angkringan. Cinderamata? Dagadu, Beringharjo, Bakpia Patuk, Kasongan, dan Kotagede adalah tempat-tempat yang sayang untuk dilewatkan. Sampai dengan tanggal 3 Januari 2015, Yogyakarta juga menyelenggarakan upacara sekaten yang akan menampilkan banyak festival rakyat.


"Tangunan RT/RW 1/1 Kecamatan Puri Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur"

Kendaraan Umum

Dari Bandara Internasional Juanda Sidoarjo: Anda bisa memilih bus damri menuju Terminal Purabaya (Bungurasih) dengan ongkos Rp 20.000,00. Lalu Anda bisa menggunakan semua bus jurusan Solo/Yogya ke Terminal Kertajaya Mojokerto dengan harga Rp 6.000 saja. Lantas, di dalam terminal ada angkutan umum L300 berwarna hijau tua jurusan Pacet. Naiklah angkutan itu dengan membayar Rp 6.000 dan sebutlah "Tangunan" untuk berhenti di seberang Masjid Jami' Al Abror. Rumah kami tampak dari masjid tersebut. (Estimasi waktu: 90 menit)

Stasiun Kereta Api Mojokerto: Untuk semua kereta jalur selatan Pulau Jawa, Stasiun Mojokerto ada dalam daftar pemberhentian wajib sebelum masuk Kota Surabaya. Dari seberang jalan depan stasiun, cegat angkot line B atau C ke arah Terminal Kertajaya (Rp 4.000,00). Lanjut dengan angkutan umum L300 hijau tua jurusan Pacet. (Estimasi waktu: 45 menit)

Stasiun Surabaya Pasar Turi: Jika Anda kebetulan memilih kereta api Jalur Utara Pulau Jawa, maka Anda tidak melewati stasiun kereta api Mojokerto. Tetapi berakhir di Stasiun Pasar Turi. Dari Stasiun ini, Anda bisa menaiki bus umum ke arah terminal Purabaya seharga Rp 5.000,00 dan melanjutkan perjalanan dengan moda transportasi seperti di atas.

Sewa Motor/ Kendaraan Pribadi

Dari Malang/ Pasuruan: 
Sebagai kota wisata, Malang menawarkan banyak rental motor/mobil seperti halnya Yogyakarta. Ambil jalur jalan Nasional Surabaya Malang. Berbeloklah di Apolo untuk masuk ke daerah Pasuruan dan tetaplah di Jalan Utama Provinsi yang menghubungkan Mojokerto-Pasuruan. Di pertigaan Pasinan, ambil arah ke selatan (arah Pacet). Kebut kendaraan Anda di Jalan desa selebar 8 meter sepanjang 5 km untuk sampai di Desa Tangunan.

Dari Surabaya:
Pilih jalur Nasional Surabaya-Solo/Yogya. Hati-hati, sebab Anda harus berbagi jalan dengan bus-bus besar, mobil-mobil pabrik, dan mobil-mobil pengangkut alat berat. Banyak jalan yang bergelombang akibat beban kendaraan yang berlebihan. Better, alon-alon waton kelakon.
Sampai sekitar 30 km, Anda memasuki kabupaten Mojokerto dan di by pass Terminal Kertajaya, ambil arah ke timur sepanjang 2 km untuk menemui pertigaan pertama ke arah Pacet. Selanjutnya, sama. Kebut kendaraan Anda di Jalan desa selebar 8 meter sepanjang 5 km untuk sampai di Desa Tangunan.

Setelah Acara Kemana?

Sekilas Mojokerto:
Mungkin Mojokerto tidak sekomplit Yogyakarta, senyaman Yogyakarta, semenarik Yogyakarta. Warga Jawa Timur pada umumnya tidak lantas tersenyum kepada orang asing tanpa alasan seperti halnya warga Ngayogyakarta Hadiningrat. Jawa Timur dibesarkan oleh sejarah perang dan penaklukan kerajaan-kerajaan yang, salah satunya, menjadi cikal bakal berdirinya Nusantara, Majapahit. Perlu Anda tahu, Mojokerto adalah pusat peradaban Kerajaan terbesar yang pernah ada di negeri ini. Pusat pemerintahannya ada di Trowulan dimana fosil-fosil peradaban Nusantara abad XIII berserakan dimana-mana, di setiap sudut desa. Candi Tikus yang terpendam di kedalaman tanah, Kolam Petirtaan para Raja, Candi Brahu, Mistisnya Candi Minak Jinggo, Pendopo Agung yang menyimpan patak batu tempat mengikat gajah yang melegenda (Anda yang menggemari pelajaran sejarah pasti tahu kenapa patak batu tersebut spesial), Candi Bajang Ratu, Wringin Lawang, dsb. Eksplore lebih jauh sendiri, temukan candi-candi yang masih dalam tahap proyek pengerukan dari dalam tanah oleh Dinas Purbakala yang jumlahnya belasan.

Gunung:
Jelajah Gunung kesayangan para pendaki Mojokerto, Gunung Penanggungan. Gunung ini banyak dipercaya sebagai Puncak sejati Mahameru. Kenapa? Sebab, gunung ini menyimpan begitu banyak candi hindu yang menempel di sepanjang jalur pendakian. Petirtaan Candi Jolotundo di kaki gunung ini adalah tempat dingin yang sangat kami rekomendasikan untuk dikunjungi. Kabarnya, sumber air di candi ini mengandung mineral tertinggi ketiga di dunia. Cukup 3 jam saja dengan kecepatan normal untuk sampai di Puncak. Jika malas mendaki, pilihlah kawasan wisata Pacet di kaki Gunung Arjuno Welirang yang memiliki pemandian panas, air terjun Coban Canggu, dan kuliner sate kelinci.

Taman Nasional Bromo Tengger Semeru yang mendunia itu juga hanya 3 jam dari Mojokerto. Jika Anda punya waktu cukup, agendakan berjumpalitan di Bukit teletabis Blok Sabana, menahan napas takjub menanti kabut tersingkap di Gardu Pandang Seruni Penanjakan, atau penasaran mendengarkan percakapan pasir berbisik di lautan Pasir Bromo.

Museum:
Museum Majapahit, koleksinya sangat lengkap. Terdapat kegiatan ekskavasi rekonstruksi peninggalan pemukiman kuno jaman kejayaan Mojopahit di samping Museum. Mungkin agak berlebihan, tapi saya jadi berimajinasi tentang proyek laskar terakota di China ketika melihat proyek itu dari balkon yang dibangun di atasnya. Maha Vihara Majapahit juga layak dikunjungi untuk melihat The Sleeping Giant Budha.
Akhirnya, hati-hati di jalan, semoga berkenan hadir dan memberikan doa keberkahan kepada kami berdua. 

...
kita begitu berbeda dalam semua,
kecuali dalam cinta (Gie, Sebuah Tanya)


Wednesday 3 September 2014

Rinjani: Sebuah Kisah Pendakian Gagal (Bagian 2)

Dari kami berempat, belum ada yang pernah merasakan badai di gunung, jadi kami belum tahu bahaya apa yang sedang menanti kami nanti malam jika terjadi badai lagi. Karena itulah kami mengabaikan informasi mereka dan tetap melanjutkan perjalanan.
...adalah lanjutan dari kepingan Rinjani: Sebuah Kisah Pendakian Gagal (Bagian 1)

Seharusnya kami lanjut ke sana,
ke puncak
Pagi harinya, ketika membuka pintu tenda, saya dikagetkan dengan beberapa ekor monyet yang nongkrong-nongkrong di atas jembatan depan tenda. Sepertinya mereka menanti pendaki-pendaki bangun untuk meminta remah-remah kue. Simpan bahan makanan atau barang berharga Anda dengan baik karena jika kita teledor menutup pintu, mereka akan masuk dan mengambil sendiri logistik-logistik yang kita bawa.

Monyet (satu saja monyetnya)
di jembatan Pos II
Saya berjalan di sekeliling Pos II. Dalam hemat saya, ini adalah tempat yang sempurna untuk mendirikan tenda. Mata air yang cukup melimpah, cekungan sungai diapit bukit-bukit yang melindungi tenda dari terpaan angin kencang, dan sebuah shelter. Sayangnya saat itu shelter Pos II sudah dipenuhi banyak tenda pendaki lain yang lebih dulu sampai.

Pukul 9, setelah makan pagi dengan tetap waspada dari gangguan monyet-monyet, kami melanjutkan perjalanan. Dari Pos II ke Pos III, kami melawati bukit-bukit kecil dengan pemandangan spektakuler. Aliran sungai penuh batu dan bukit teletabies  di kejauhan memanjakan mata kami sehingga tidak sadar kalau jalanan sedikit-demi-sedikit semakin menanjak. Sampai akhirnya kami sampai di Pos III. Oiya, sedari Pos II, jas hujan tak pernah kami lepas sebab hujan sering turun dengan tiba-tiba.

Tanjakan Penyiksaan dari Pos III
Pos III terletak di pinggir aliran sungai yang cukup deras. Tepat di permulaan rute tanjakan penyiksaan. Kabarnya, di Pos ini jalanan bercabang 2, yang satu ke tanjakan penyesalan, dan satunya lurus ke tanjakan penyiksaan. Saya rasa keduanya bukan pilihan yang bagus. Namun, menurut hipotesa saya, lebih baik tersiksa kan daripada menyesal? Jadilah kami memilih melalui tanjakan penyiksaan.

Tanjakan Penyesalan
Jalan zig zag di bukit itu konon tiada habisnya sambung menyambung
Tanjakan penyiksaan adalah kumpulan bukit-bukit yang saling sambung menyambung menjadi satu. Seperti kata paribahasa, di atas bukit masih ada bukit (hehe, harusnya sih di atas langit masih ada langit). Perjalanan melalui tanjakan penyiksaan serasa tiada habisnya. Di bawah guyuran hujan dan tas carrier yang makin berat karena basah, kami mendaki sedikit demi sedikit tanjakan dengan kemiringan rata-rata tak kurang dari 60 derajat. Yang sedikit menghibur adalah, gunung ini ramai sekali oleh pendaki mancanegara. Perancis, Malaysia, Belanda, China, Australia, Jerman, Belgia, New Zealand, dan UK adalah turis yang paling sering kami temui sepanjang perjalanan. Saat break, biasanya kami ngobrol-ngobrol santai dengan mereka. Kebanyakan mereka bilang “Your country is awesome, cool, etc, etc

Kami naik dari Pos III pukul 10.30 siang. Kami bertemu beberapa pendaki yang turun dan semuanya bilang kalau kemarin malam terjadi badai di atas. Tidak ada dari mereka yang summit karena angin sangat kencang dan mereka sempat menyarankan kami untuk turun saja. Dari kami berempat, belum ada yang pernah merasakan badai di gunung, jadi kami belum tahu bahaya apa yang sedang menanti kami nanti malam jika terjadi badai lagi. Karena itulah kami mengabaikan informasi mereka dan tetap melanjutkan perjalanan. Wong sudah sejauh ini, masa mundur di tengah jalan…

Pukul 16.00 kami sudah tiba di sebuah punggungan bukit dimana tidak ada lagi bukit di atasnya. Saat itu kabut tebal menyelimuti sekeliling hingga mengaburkan pemandangan apa yang terdapat di bawah bukit. Sesaat kemudian angin kencang menyibak kabut dan tampaklah pemandangan di bawahnya. Danau segara anak muncul dari balik kabut. Alhamdulillah, akhirnya sampai juga di Plawangan Sembalun.

Plawangan Sembalun
Sudah ada beberapa tenda berdiri di sana. Sebetulnya Plawangan ini tidak terlalu bagus untuk dijadikan tempat berkemah. Letaknya di punggungan bukit tanpa ada cukup vegetasi yang melindungi. Angin berhembus dengan kencang di tempat ini dengan batas jurang di samping kanan dan kiri.

Ketika kabut dan awan tersibak
Danau Segara Anak
Segera setelah membaca situasi, kami mendirikan dua tenda di bawah cerukan pasir yang terkena abrasi angin sehingga membentuk garis-garis di dindingnya. Gerimis masih terus mengguyur saat kami mendirikan tenda. Angin yang berhembus kencang semakin menyulitkan pendirian tenda kami. Meskipun telah dipasang semua pasak, tetap saja tenda terangkat ketika angin kencang menerpa.

Setelah gelap, suasana berubah mencekam. Angin yang menggesek dedaunan dan pasir menimbulkan bunyi yang menyeramkan. Makin malam, angin berhembus makin kencang saja. Ditambah dengan hujan yang deras, membuat tenda kami bocor dimana-mana. Kilat menyambar-nyambar ditambah suara gemuruh mirip setting film horror jaman dulu.

Pukul 10 malam, terdengar gaduh-gaduh tenda sebelah diterbangkan angin. Kami tak berani keluar membantu atau melihat mereka, sebab hujan sangat deras sementara ponco kami terbang entah kemana. Kami berdua berusaha memposisikan diri di pojok-pojok tenda menahan pasak agar tidak diterbangkan angin juga.  Jika kami keluar, mungkin tenda kami akan terbang juga. Di balik sleeping bag, tiada henti-hentinya kami berdoa, beristighfar, memohon ampun atas segala dosa yang tiba-tiba terlintas begitu saja di kepala satu per satu. Kami menggigil bukan hanya karena kedinginan oleh rembesan air hujan melalui tenda yang bocor, tapi juga karena menyadari, betapa dekatnya kami dengan maut saat itu.

Yang ditinggalkan badai semalam
Sampai pukul 2 pagi kami masih terjaga karena khawatir dengan suara badai di luar dan tenda yang terangkat-angkat di ujungnya. Apalagi kami tahu betul kalau di depan dan belakang punggungan Plawangan ini adalah jurang-jurang yang dalam. Yang jelas, mustahil kami menjalankan rencana untuk summit nanti subuh dengan kondisi belum tidur semalaman. 
Sekalipun kami gagal, ada banyak memori
dan oleh-oleh yang kami bawa pulang
Terimakasih ya Allah
Terimakasih Rinjani

to be continue... (bagian 3)

Tuesday 26 August 2014

Rinjani: Sebuah Kisah Pendakian Gagal (Bagian 1)

Pendakian itu butuh ilmu.

Pendakian itu bukan sekedar naik dan foto selfie /groupies di Puncak sambil bawa bendera.

Pendakian itu bukan hanya soal sunrise di puncak.

Dan terpenting, pendakian itu soal kembali ke rumah, dengan selamat.


Ini adalah gunung pertama yang saya gagal sampai puncaknya, tapi jika ditanya “Pendakian mana yang paling berkesan sejauh ini Mas?” Dengan mantap saya jawab “Rinjani…”
Saat terakhir melihat Danau Segara Anak,
dan kami putuskan turun...

Pendaki Cerdas

Saya tidak berhak menghakimi seseorang dengan predikat cerdas atau tidak. Siapalah saya… Hanya saja, perkenankan saya menceritakan kronologis gagalnya pendakian Rinjani kali ini agar menjadi pelajaran dan pengingat bagi saya khususnya, dan mungkin, Anda yang berminat mendaki gunung api tertinggi kedua di Indonesia tersebut, atau gunung lain apapun itu saat cuaca kurang mendukung.

Saya memilih berangkat di hari Jumat, 20 Desember 2013 sepulang kerja dengan kereta api dari Jakarta. Rutenya, Jakarta Pasar Senen – Jogjakarta Lempuyangan – Banyuwangi. Perjalanan kereta api sampai Banyuwangi memakan waktu sekitar 24 jam. Ditambah dengan bus 5 jam di Bali, Fery 5 jam di Selat Lombok, dan Travel 3 jam di Lombok sehingga totalnya, 37 jam kami habiskan sepanjang perjalanan Jakarta – Lombok. Memang sih biaya totalnya cukup murah bila dibandingkan dengan harga tiket pesawat saat peak season libur natal dan tahun baru, tapi konsekuensinya sungguh tidak murah. Meskipun tidak tampak, fisik kami sudah tidak 100% bahkan sebelum kami menginjak pintu masuk Taman Nasional Gunung Rinjani.

Sebagai PNS, rasanya sulit mendaki gunung tinggi dengan hanya memanfaatkan sabtu dan minggu. Minimal harus mengambil cuti 3 hari yang jatahnya hanya 12 hari dalam setahun (minus cuti bersama). Akibatnya banyak periode traveling saya yang memanfaatkan tanggal merah bertumpuk-tumpuk seperti pada Desember 2011 (Bali, seminggu), Desember 2012 (Semeru, 4 hari), dan kali ini Desember 2013 (Lombok & Rinjani, 10 hari). Padahal Desember dinyatakan para pakar sebagai bulan paling basah sepanjang tahun. Probabilitas untuk tidak hujan hanya sedikit dan memang saya hanya berharap keberuntungan yang besar ketika memutuskan untuk naik gunung di bulan Desember.
hujan di selat Lombok, pagi pukul 8 WITA
 Kenyataanya, sepanjang perjalanan saya menemui hujan di mana-mana. Sejak di dalam kereta hingga di atas kapal di selat Lombok, hujan mengiringi perjalanan kami. Hanya semangat membabi buta yang mampu mengalahkan logika betapa sulitnya naik gunung di saat cuaca buruk.

Puncaknya, ketika naik pick up dari aikmel ke sembalun, hujan mengguyur dengan deras. Saat itulah saya pertama kalinya merasa ragu untuk meneruskan pendakian. Sebagai “yang dituakan” di tim ini, saya diberi tanggung jawab untuk mengambil keputusan-keputusan penting menyangkut keselamatan kami berempat. Tapi mengingat perjalanan kami yang terlampau jauh dari Jakarta, rasanya nanggung kalau mau berhenti di sini.

Kami sampai di Sembalun pukul 5.30 sore dengan hujan yang tak kunjung berhenti. Setelah lapor di Pos Sembalun, kami meneruskan naik pick up ke pintu masuk yang jaraknya sekitar 1,5 km.

Di bawah rintik hujan, kami memulai pendakian. Target kami adalah Pos II. Belum juga mencapai Pos I, gelap telah datang memeluk kami. Bersyukurnya, rintik hujan telah berhenti. Jalur sampai dengan Pos II Rinjani terkenal landai tapi panjaaaaang sekali. Jika Anda melaluinya di siang hari, banyak ranjau kotoran sapi di sana-sini karena memang bukit-bukitnya jadi ladang penggembalaan sapi. Kalau malam, ya…mumpung nggak kelihatan. 

Sampai Pos I sekitar pukul 7.30 WITA. Beberapa tenda sudah berdiri di sekitar balai-balai. Menurut sumber di internet, mata air baru ditemukan di Pos II, jadi kami hanya break sebentar di Pos I untuk memasak oatmeal dan melanjutkan satu jam perjalanan lagi menyusuri jalan setapak ke Pos II dalam kegelapan.

Sesampainya di Pos II Pukul 09.00 WITA, sudah banyak tenda berdiri mengelilingi pondokan sampai tidak ada tanah lapang lagi untuk mendirikan tenda kami. Kondisi di Pos II cukup ideal karena tertutup 2 bukit dan berada di pinggir aliran sungai dengan jembatan lebar menghubungkan keduanya.

Karena sudah larut malam dan badan kami kepayahan, akhirnya kami putuskan mendirikan tenda di atas jembatan. Kami belum tahu kalau di jembatan itu banyak makhluk tak diundang yang berlalu lalang.


To be continue ke Bagian 2...

Thursday 10 July 2014

Pendakian Gede (sekaligus) Pangrango Bagian 3: Puncak Gede

Sang Saka di 2958 mdpl
Tilut tilut tilut tulalit tulalit tulalit…

Mendengar bunyi alarm hp, saya tidak serta merta beranjak dari kantung tidur yang hangat, tapi saya tambah additional time nya 10 menit. Nanti lah jam 3.10 bangun lagi.

Tilut tilut tilut tulalit tulalit tulalit…

Astaga, cepat sekali 10 menitnya, alarm sudah bunyi lagi! Terpaksa saya bangun. Saya agak kasihan sama Dans, teman setenda, yang semalam baru tidur jam 22.30 setelah senam dengkul di trek Pangrango. Jadilah saya tidak bergegas membangunkannya.

Saya mulai memasak mi instan biar nggak lemes waktu summit Gede. Setelah sekian kali mencoba mendaki Gunung, saya jadi paham satu hal penting. “Bagaimanapun keadaannya, di gunung, kita harus tetap kenyang”. Lapar adalah sumber segala petaka, bisa masuk angin, pusing, nggak konsentrasi ketika meniti jalan di pinggir jurang, dsb. Bisa runyam kan urusannya kalau sakit di gunung. Jadilah saya bela belain masak terlebih dahulu. Mi instan jadi alternative makanan cepat saji yang lazim jadi andalan pendaki gunung. Dan memang, bisa saya katakan, rasa mi instan terbaik muncul ketika kita ada di atas ketinggian.

Setelah mi instan matang, barulah saya bangunkan ketiga teman saya. Pukul 3.30, kami baru selesai makan dan persiapan packing untuk summit Gede. Kita tak boleh meremehkan trek apapun. Obat P3K, jas hujan, headlamp, snack/coklat, minum, dan kamera diungkus rapi dalam 2 ransel kecil. Bismillah, we are ready!

Kalau kemarin ke Pangrango kita mengambil arah kanan dari pertigaan kandang badak, kali ini ke Puncak Gede, kita pilih yang lurus. Jalurnya didominasi tanjakan dan pepohonan lebat di kanan kiri. Menguntungkan sih ada pepohonan seperti itu. Jadi, kita bisa pegangan ketika naik maupun turun. Angin pun tidak terlalu kencang karena terhambat dedaunan.

jalur ke puncak Gede
Jalurnya cukup jelas meskipun saat itu masih gelap gulita. Cukup besar pula kemungkinan kita untuk berpapasan/menyalip pendaki lainnya bila dibandingkan dengan track menuju Puncak Pangrango yang lebih sepi peminat. Jadi, kita tak perlu takut tersesat sekalipun mulai summit pukul 3 pagi.

Setelah satu jam perjalanan, kami menjumpai tanjakan setan. Hiii, serem amat ya namanya. Kenyataanya memang serem juga sih. Tanjakannya memiliki kemiringan hampir 80 an derajat tapi sudah banyak dibantu dengan tali temali dan pijakan yang cukup aman meski kelihatannya licin saat musim penghujan. Akan sulit juga kalau naik sambil bawa kerier besar. Dengan ketinggian hampir 20 meter, tanjakan setan, menurut saya, adalah bagian paling manarik sepanjang Kandang Badak - Puncak Gede. Terjadi antrian yang lumayan ketika naik ataupun turun tanjakan setan.

Jalur Alternatif
Bagi yang fobia ketinggian, sebelum tanjakan setan, dibuka jalur baru tanpa melewati tebing tanjakan setan. Jalurnya agak berputar ke kiri dan nanti bertemu di atas. Ini bisa jadi pilihan, tapi menurut saya, dengan jalur baru tersebut kurang seru sensasinya jika dibandingkan bergelantungan, mbediding, dan gemeteran ketika kaki kesulitan mencari pijakan kaki yang aman di tanjakan setan.

Setelah tanjakan setan, vegetasi mulai berkurang. Efeknya, angin terasa berhembus kencang. Tidak banyak tanaman edelweiss di sini. Kabarnya, edelweiss tumbuh suburnya di alun-alun Suryakencana (untuk Gede) dan alun-alun Mandalawangi (untuk Pangrango). 

Ngomong-ngomong soal Mandalawangi, jadi ingat tentang Soe Hok Gie dalam film Gie. Ia hobi sekali naik TNGGP dan berfilosofi di alun-alun Mandalawangi. Banyak setting film itu diambil di sana yang menandakan betapa seringnya ia dan teman-teman kuliahnya di UI naik TNGGP.

“Mandalawangi-Pangrango” 
oleh Soe Hok Gie


Senja ini, ketika matahari turun
Ke dalam jurang-jurangmu


Aku datang kembali
Ke dalam ribaanmu, dalam sepimu
Dan dalam dinginmu


Walaupun setiap orang berbicara tentang manfaat dan guna
Aku bicara padamu tetang cinta dan keindahan
Dan aku terima kau dalam keberadaanmu
Seperti kau terima daku


Aku cinta padamu, Pangrango yang dingin dan sepi
Sungaimu adalah nyanyian keabadian tentang tiada
Hutanmu adalah misteri segala
Cintaku dan cintamu adalah kebisuan semata


Malam itu ketika dingin dan kebisuan
Menyelimuti Mandalawangi
Kau datang kembali
Dan bicara padaku tentang kehampaan semua


“hidup adalah soal keberanian,
Menghadapi yang tanda tanya
Tanpa kita bisa mengerti, tanpa kita bisa menawar
Terimalah, dan hadapilah”


Dan di antara ransel-ransel kosong
dan api unggun yang membara

Aku terima itu semua
Melampaui batas-batas hutanmu


Aku cinta padamu Pangrango
Karena aku cinta pada keberanian hidup


Djakarta, 19 Juli 1966
Soe Hok Gie


Mendekati puncak, banyak dijumpai rombongan yang memilih mendirikan kemah di sana. Di antara sedikit perdu-perdu yang melindungi tenda mereka dari kencangnya angin yang dapat menerbangkan pasak. Namun memang pemandangan di sini lebih spektakuler dibandingkan di Kandang Badak yang tertutup pohon-pohon tinggi. Jurang di sisi utara dan selatan menjadi pembatas daerah tersebut. Di sisi utara, Kota Bogor dan Jakarta, serta laut jawa di kejauhan membatasi daratan dengan langit. Lampu-lampu kota tersebar bagaikan kunang-kunang yang sedang kumpul keluarga.

Tak seberapa jauh dari sana, tugu puncak Gede, 2958 mdpl terpancang menandai tanah tertinggi ketiga di Bumi Sunda setelah Puncak Ciremai dan tetangga seberang, Puncak Pangrango.

Riuh rendah suara pendaki yang telah sampai di sana membuat saya lupa melakukan ritual sujud syukur di setiap puncak gunung yang saya kunjungi. Sebagian besar mengantri untuk berfoto selfie di papan nama 2985 mdpl, sisanya mengelilingi penjual nasi uduk dan teh panas yang laris manis.

Pangrango
Pemandangan yang paling menakjubkan di Puncak Gede adalah kerucut Pangrango yang gagah menjulang di seberang jurang. Ia lebih hitam dari malam, lebih angkuh jika dilihat dari jauh. Terharu saya semalam berhasil ngesot ke sana. Allohuakbar.

Sekumpulan kabut tipis yang naik menyisakan gedung-gedung pencakar langit Jakarta yang tampak kecil di kejauhan dibandingkan dengan daratan tigaribu meter ini.

#
Setelah mengabadikan beberapa gambar, saya bergegas turun karena perut sudah mulai lapar lagi. Seperti kisah-kisah pendakian saya yang lain, jika dibandingkan naik, saya lebih tidak suka turun gunung. Selain memang lebih menyiksa dengkul, turun juga berarti meninggalkan Puncak yang indah di atas sana dan mendatangi Jakarta dan rutinitas di hari kerja (lagi). Hmm, tetap harus disyukuri sih ya, Alhamdulillah.

Sampai di Kandang Badak, kami memaksakan diri memasak sebagian besar logistic yang masih banyak agar tidak terlalu berat. Sisanya, diberikan ke tenda sebelah.

Meski dari pos Cibereum sampai bawah kami diguyur hujan lebat, sepiring nasi goreng panas di sebuah warung di dekat Balai Besar Cibodas menghangatkan lagi suasana hati yang sempat kebas. Tsaaah. :D Sampai jumpa di catatan perjalanan selanjutnya ya.      


Friday 30 May 2014

Pendakian Gunung Gede (sekaligus) Pangrango Bagian 2: Puncak Pangrango

Puncak Pangrango dari Puncak Gede
been there, alhamdulillah
Setelah menyelesaikan simaksi jalur Cibodas, kami bergegas memulai mengayunkan langkah langkah sampai 7 km ke depan menuju Kandang Badak. Pukul 10.30 kami mulai berjalan. Rombongan ini terdiri atas empat orang. Saya, Zein, Dans, dan Mas Alam. Kesemuanya teman sekantor. Khusus Zein, dia baru pertama kali naik gunung. Mari kita lihat bersama kelak, apakah selanjutnya dia tertular virus “rindu ketinggian” atau tidak.

Pos pertama yang kami jumpai setelah tiga puluh menit perjalanan adalah telaga biru yang saat itu warnanya hijau. Jalannya sedari awal sudah berupa tangga berbatu. Entah kenapa, saya malah kurang suka dengan trek yang rapi seperti ini. Terasa lebih vertikal, kasihan kaki ini pas turun nanti.

Jembatan Rawa Gayonggong
Beberapa saat kemudian, kami sampai di Rawa Gayonggong. Sebuah wilayah becek yang untungnya sudah dibuatkan jembatan beton panjang dan cantik. Saya jadi paham kenapa di papan informasi di Balai Besar tadi disebutkan kalau TNGGP adalah Taman Nasional terbaik di Indonesia. Kalau dari segi fasilitas, saya mengamini. Tapi kalau dari segi lainnya, hmmm, nanti dulu.
team Jomblo-Jomblo-Jomblo-Jomblo #eh
Sejam sudah kita berjalan dan kita sudah sampai di pertigaan air terjun Cibereum. Pengunjung umum hanya boleh mendaki sampai pertigaan ini untuk kemudian berbelok ke kanan menuju air terjun. Asyik, berarti muda-mudi pacaran, dan remaja-remaja haha hihi nggak akan sering-sering ditemui lagi setelah ini.

Setelah pertigaan, jalurnya cukup menanjak selama 140 menit sampai Kandang Batu. Di kandang batu terdapat shelter dan sungai yang deras. Tempat yang cukup ideal untuk istirahat. Kami pun sejenak break untuk sholat Dzuhur dan makan siang nasi bungkus yang dibeli dari Cibodas.

Selepas Kandang Batu, kami mendapati papan peringatan bahwa kami akan melewati air panas. Sandal saya ganti sepatu saking takutnya dengan tulisan-tulisan di blog orang yang katanya airnya benar-benar panas. Nyatanya? Ya memang panas, tapi ngga sampai mendidih kok (Baliknya saya turun pakai sandal). Sejauh ini, rute air panas adalah favorit saya sepanjang pendakian Gede Pangrango. Air terjun dan sungai yang mengepul, batuan yang licin, dan jurang di samping kanan sungguh mendebarkan. Oiya, di sini jalurnya agak macet, karena kami jalannya pelan-pelan. Beberapa ada yang sengaja berhenti di tengah-tengah untuk foto selfie dulu dengan begron air terjun panas.
selfie di air panas
kayak gini nih yang bikin macet
Terjun ke jurang langsung tuh, ngeri-ngeri sedap
Dari air panas ke kandang badak memakan waktu sekitar 60 menit melewati aliran sungai yang agak keputih-putihan karena bercampur belerang. Hati-hati, air di aliran sungai ini tidak bisa diminum ya. Ke atas lagi, kami bertemu dengan air terjun kecil bernama Pancaweleuh. Di sini saya berpapasan dengan banyak pendaki yang turun. Banyak dari mereka mengatakan kalau lahan untuk camp di kandang badak sudah hampir penuh, lebih baik kembali saja ke kandang batu. Haseem. Bukannya berbalik, saya malah mempercepat langkah dan mulai sprint meninggalkan rombongan untuk segera mengecek dan menge-tag tempat untuk mendirikan tenda. Alhamdulillah, dapat juga. Saat itu pukul 16.00.
air terjun Pancaweleuh
Segera setelah tenda berdiri, saya bersama Dans mengemas tas kecil untuk tempat minum, headlamp, kamera, jas hujan, P3K, dan makanan ringan. Kami lanjutkan mendaki Gunung Pangrango.

Kami bertemu dengan seseorang yang juga ingin ‘tektok’ naik Pangrango. Katanya sedari siang ia menunggu barengan untuk naik tapi ngga ketemu juga. Jadilah kami bertiga mulai naik dari Kandang Badak pukul 16.30. Saat itu saya berpesan sambil bercanda sama dua teman yang tinggal di Kandang Badak agar mulai mencari kalau jam 10 malam kami belum kembali.
Puncak Gede, dilihat dari jalur Pangrango
Kami bertiga rupanya punya visi yang sama, “nggak ingin kemalaman di jalan”. Jadilah kami, yang sama-sama belum pernah tahu medan yang akan kami hadapi, dengan semangatnya, sprint di sepanjang jalur. Sepertinya lebih jarang yang naik Pangrango, sebab, jalurnya masih sangat rimbun dan banyak pohon tumbang di tengah jalan. Sejam dua jam terus menanjak tiada habisnya. Gelap tak terhindarkan. Hanya doa dan pita-pita yang dililitkan di pohon yang kami andalkan sebagai penunjuk jalan.

Setelah 2 jam mendaki, barulah kami bertemu beberapa pendaki yang turun. Apa yang kami dapat? Bukannya semangat, tapi mereka malah bilang kalau puncak masih lama, sekitar tiga jam lagi. Dibilangnya, mereka tadi naiknya sampai 5 jam. “Sebaiknya turun saja kalau tidak bawa tenda, daripada kemalaman”. Seketika itu juga kaki kami lemas. 3 jam lagi? Selama ini dan sejauh ini kami melangkah, masih 3 jam lagi? Dalam hati saya mengutuk pendaki-pendaki tersebut. Uasemm, wong di blog-blog dijelaskan kalau ke Pangrango hanya butuh 2,5 jam perjalanan dari Kandang Badak kok. Artinya, kami hanya kurang setengah jam lagi. Padahal sedari tadi speed kami tidak berkurang, kok masih selama itu. Hoax paling, pikir saya.

Kami bertiga sepakat untuk meneruskan mendaki meski dengan ketidakpastian. Sayangnya, sepanjang perjalanan kami bertemu pendaki turun yang sepertinya mereka tidak belajar etika menyemangati sesama pendaki. Bukannya memberi energi, mereka malah seperti melumpuhkan sendi-sendi kami dengan berkata “puncak masih jauuh sekali, turun saja”.

Azam kami yang kuat akhirnya membuahkan hasil. Di tanjakan yang ekstrim menjelang puncak, angin berubah kencang dan udara mendadak sangat dingin. Mungkin ada dementor. Artinya, ruang terbuka sudah dekat dan mungkin itu adalah puncak.

Akhirnya, Puncak tertinggi kedua di Jawa Barat ada di depan mata dengan penanda bangunan dan sebuah tugu bertuliskan 3019 mdpl. Alhamdulillah. Tepat 2,5 jam perjalanan cepat kami tempuh untuk sampai puncak Pangrango. Kami berhenti sejenak untuk menunaikan sholat maghrib.
Pondok di Puncak Pangrango
Selepas sholat, kami kembali turun. Saya tahu ini akan menjadi masalah lebih besar ketimbang perjalanan naik tadi. Udara yang lebih dingin (karena sempat berhenti), malam yang semakin pekat, dan tubuh yang semakin lapar. Bismillah, dengan sesekali merosot dan meluncur kami turun. Rupanya tak banyak waktu yang dapat kami hemat dalam perjalanan turun. Setidaknya 2 jam lebih juga waktu yang kami butuhkan untuk turun.

#teamPangrango
Ketika kami menjumpai rombongan pendaki yang masih naik, kami katakan dengan jelas kalau puncak mesih sekian menit lagi, memberikan kata-kata motivasi, dan saling menyapa santun.

Pukul 10 kami sampai di Kandang Badak dan mendapati 2 tenda kami sudah gelap plus dengkuran dari kedua rekan kami yang sudah tertidur pulas. Ketika kami membuka tenda, ada sebuah kertas yang isinya “kalau mau masak, logistic ada di tendamu semua”. Duh, jadi kami ngga disisain makanan ya? #hiks #suddenly #brokenheart #kram #ngantuk #pengentidur #tapilaper              

---------------------------------------------------------------------------------------to be continued


Pendakian Gunung Gede (sekaligus) Pangrango Bagian 1: Simaksi

Kok Baru Sekarang?
Boleh dibilang, ini adalah gunung terdekat dari Jakarta yang bahkan dapat terlihat dari jendela kantor saya saat cuaca cerah. Transportasi umum kesana pun ada banyak dari terminal Bus Kampung Rambutan. Treknya relatif mudah dan cukup sehari saja sudah bisa muncak sekaligus turun. Peminatnya di kantor pun ada banyak sehingga untuk kesana, tak perlu takut ngga-ada-yang-menemani.

Nah, pertanyaannya, kok baru sekarang menjajal gunung tersebut setelah 1,5 tahun hidup di Jakarta? Simple saja. Belum jodohnya, mungkin.

Perizinannya ketat ya?
Enggak juga. Mungkin lebih tepat pakai kata “teratur”. Ya, perizinan mendaki gunung paling teratur yang pernah saya jumpai ada di Gede Pangrango. Bagi Anda yang berminat ke sana tetapi belum terbiasa dengan transaksi online atau terbiasa dengan mekanisme datang-naiki-turun-pulang ke gunung-gunung lainnya di Indonesia, ada baiknya Anda googling mencari informasi terlebih dahulu tentang panduan memperoleh simaksi/ perizinan di situs resmi TNGGP: www.bookinggedepangrango.org

www.bookinggedepangrango.org
Saya sendiri sih takjub dengan betapa kerennya petugas TNGGP dengan programnya yang begitu rapi dan sistematis itu. It was an achievement! Good Job! Saya harap petugas taman nasional lainnya melakukan studi banding ke Balai Besar TNGGP dan menerapkannya ke seluruh perizinan pendakian gunung di Indonesia.

Keren dimananya? Banyak yang gagal naik karena simaksi kok dibilang keren?
Justru itu, menurut saya, sudah saatnya kita mengubah mindset kita, dari “pendaki bonek” ke “pendaki cerdas”. Mendaki gunung bagaikan virus yang cepat sekali menular ke orang lain. Merupakan kabar menggembirakan ketika mendapati begitu banyaknya peminat ekskul pecinta alam, pendaftar trip wisata pendakian, ataupun rombongan dengan kerier besar di stasiun/ bandara.

Yang menjadi masalah adalah ketika dengan kondisi seperti itu, gunung menjadi berisik dengan haha hihi dan bunyi gitar sampai larut malam, kegelapan yang menentramkan berubah menjadi benderang api unggun yang bahannya dari dahan segar yang ditebang, atau yang paling umum, sampah berceceran di sepanjang jalur pendakian. Uasem tenan.

Nah, Gede Pangrango telah menghadapi masalah “membludaknya jumlah peminat” sejak dulu sehingga sudah lebih awal menyadari solusi pencegahannya dibanding gunung lainnya. Membludak kenapa? Mungkin karena gunung ini relative dekat dengan Jakarta atau Bandung, serta cukup mudah didaki dan juga memiliki keindahan yang mumpuni, sehingga banyak sekali orang mengantri tiap pekannya.

Kerennya, pengelola BB TNGGP (Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango) membuat pembatasan jumlah pendaki tiap harinya untuk menjaga daya tahan gunung menampung jumlah pengunjung dengan cara kuota. Maksimal hanya 600 pendaki per hari yang diperbolehkan naik melalui 3 jalur pendakian (100 orang melalui jalur Selabintana, 200 orang melalui jalur Gunung Putri, dan 300 orang melalui jalur Cibodas).

Cara seleksinya? Ya dengan cara booking itu. Online Bro! Bisa juga datang langsung, tapi tetap saja, untuk mengecek kuota per hari yang tersisa, Anda masih harus membuka situs booking TNGGP. Di Balai Besar disediakan komputer bagi Anda yang datang langsung, Untuk Booking Dulu Juga!! Haha, sering-sering cek kuota ya kalau berencana mendaki di akhir pekan atau hari libur nasional. Transaksinya realtime dengan menunjukkan secara jelas jumlah kuota, jumlah daftar tunggu, dan jumlah pendaki yang telah disetujui. Mirip kalau pesan tiket kereta online lah… Mantap!

Secara singkat prosesnya (Anda bisa mencari web lain yang membahas tata cara booking TNGGP kalau mau lengkapnya, sudah banyak kok) sebagai berikut:
  1. Klik di pilihan tanggal booking, yang masih biru alias masih bisa di klik ya… Kalau udah ngga bisa di klik berarti udah full booked. Jauh-jauh hari makanya sudah harus booking.
  2. Isi data identitas ketua dan rombongan selengkap-lengkapnya (minimal 3 orang dalam satu rombongan). Jangan salah isi ya. Soalnya pengalaman kemarin saya ada salah isi dan ngeditnya susah bener. Males kan…
  3.  Anda akan dapat kode booking untuk login di web dan mengecek status perizinan Anda.
  4. Ikuti petunjuknya sampai keluar nominal yang harus dibayar dan bank tujuannya. (April kemarin saya masih Rp7.500 per orang, ngga tahu sekarang berapaan).
  5. Bayar ke bank/atm. Slip transfer jangan dibuang ya, wajib dibawa nanti!
  6.  Setelah transfer, konfirmasikan pembayaran ke web tadi dan tunggu beberapa hari sampai ada notifikasi email kalau booking Anda disetujui (cek terus tiap hari).
  7.  Print screen dan Print deh halaman yang menginformasikan kalau “booking anda telah disetujui”.
  8. Proses belum selesai. Anda masih harus datang ke Balai Besar di Cibodas untuk menukar bukti booking di poin 7 tadi dengan simaksi (izin pendakian resmi) dengan dilengkapi fotokopi ktp semua rombongan, bukti transfer, dan tandatangan surat pernyataan bermaterai Rp 6.000. Bawa Materai sendiri ya biar gak repot beli keluar lagi. Jadi tetap harus datang ya meski daftar online? Ya, tapi bisa kok tukarnya pas sebelum Anda naik. FYI, BB TNGGP baru buka jam 9 pagi, ditambah antri dsb, kalau Anda mau tukar di tempat sebelum naik konsekuensinya Anda bisa kesiangan memulai pendakian.
  9.  Di pos sebelum mendaki (pos Montana kalau ngga salah), simaksi Anda akan di cek. Jumlah personil, kelengkapan peralatan, seleksi barang-barang yang boleh dan tidak boleh dibawa seperti sabun, odol, miras, senjata api, dsb. Logistik Anda juga akan dicek kecukupannya dan untuk kroscek juga sampah apa yang harus dibawa turun nanti.
  10. Setelah lolos di pos Montana, berarti tuntas sudah simaksi nya dan Anda adalah pendaki sah Gunung Gede Pangrango. Selamat!

Ribet ya? Enggak kok, langkahnya jelas dan mudah dengan petunjuk pengisiannya banyak bertebaran di internet. Kita pendaki cerdas dan bertanggungjawab, kan? Proses yang panjang itu membuat saya makin excited selama menunggu booking disetujui sekaligus yakin, bahwa alam Gede Pangrango masih akan terus bertahan sampai beberapa dekade ke depan.
suasana di Balai Besar TNGGP
mbak-mbak itu bersembilan sudah bawa carier tapi gagal naik

Maket replika Taman Nasional di Balai Besar
Catatan:

Saya melihat sendiri beberapa kasus gagal naik meskipun sudah datang dari luar kota bawa kerier dan rombongan ke Balai Besar. Diantaranya:
-       Sudah booking dan bayar, tapi belum diterima email konfirmasi kalau sudah di approve. Mungkin dia bayarnya telat, kelamaan mikir sampai kuota nya penuh dan dia ngga sadar. Atau mungkin juga kuotanya sudah penuh tapi nekat bayar sehingga dia tak kunjung menerima email konfirmasi.
-          Maunya pakai ‘orang dalam lewat jalur nerobos2’. Bukannya dipermudah, malah dia dimarahi sama petugas (salut sama petugasnya, semoga istiqomah). KKN kok dipelihara dan dibawa ke gunung! Huuu.
-          Agen perjalanan, mau pakai ‘jalur samping’ juga. Tetap ditegaskan kalau dia harus cek kuota dan nggak bisa lebih dari kuota tersisa.
-          Ada juga yang baru datang mau langsung naik pakai marah-marah. Dalam hati ingin rasanya saya bilang, “ke laut saja Bro, ngga pakai ribet