Friday, 30 May 2014

Pendakian Gunung Gede (sekaligus) Pangrango Bagian 1: Simaksi

Kok Baru Sekarang?
Boleh dibilang, ini adalah gunung terdekat dari Jakarta yang bahkan dapat terlihat dari jendela kantor saya saat cuaca cerah. Transportasi umum kesana pun ada banyak dari terminal Bus Kampung Rambutan. Treknya relatif mudah dan cukup sehari saja sudah bisa muncak sekaligus turun. Peminatnya di kantor pun ada banyak sehingga untuk kesana, tak perlu takut ngga-ada-yang-menemani.

Nah, pertanyaannya, kok baru sekarang menjajal gunung tersebut setelah 1,5 tahun hidup di Jakarta? Simple saja. Belum jodohnya, mungkin.

Perizinannya ketat ya?
Enggak juga. Mungkin lebih tepat pakai kata “teratur”. Ya, perizinan mendaki gunung paling teratur yang pernah saya jumpai ada di Gede Pangrango. Bagi Anda yang berminat ke sana tetapi belum terbiasa dengan transaksi online atau terbiasa dengan mekanisme datang-naiki-turun-pulang ke gunung-gunung lainnya di Indonesia, ada baiknya Anda googling mencari informasi terlebih dahulu tentang panduan memperoleh simaksi/ perizinan di situs resmi TNGGP: www.bookinggedepangrango.org

www.bookinggedepangrango.org
Saya sendiri sih takjub dengan betapa kerennya petugas TNGGP dengan programnya yang begitu rapi dan sistematis itu. It was an achievement! Good Job! Saya harap petugas taman nasional lainnya melakukan studi banding ke Balai Besar TNGGP dan menerapkannya ke seluruh perizinan pendakian gunung di Indonesia.

Keren dimananya? Banyak yang gagal naik karena simaksi kok dibilang keren?
Justru itu, menurut saya, sudah saatnya kita mengubah mindset kita, dari “pendaki bonek” ke “pendaki cerdas”. Mendaki gunung bagaikan virus yang cepat sekali menular ke orang lain. Merupakan kabar menggembirakan ketika mendapati begitu banyaknya peminat ekskul pecinta alam, pendaftar trip wisata pendakian, ataupun rombongan dengan kerier besar di stasiun/ bandara.

Yang menjadi masalah adalah ketika dengan kondisi seperti itu, gunung menjadi berisik dengan haha hihi dan bunyi gitar sampai larut malam, kegelapan yang menentramkan berubah menjadi benderang api unggun yang bahannya dari dahan segar yang ditebang, atau yang paling umum, sampah berceceran di sepanjang jalur pendakian. Uasem tenan.

Nah, Gede Pangrango telah menghadapi masalah “membludaknya jumlah peminat” sejak dulu sehingga sudah lebih awal menyadari solusi pencegahannya dibanding gunung lainnya. Membludak kenapa? Mungkin karena gunung ini relative dekat dengan Jakarta atau Bandung, serta cukup mudah didaki dan juga memiliki keindahan yang mumpuni, sehingga banyak sekali orang mengantri tiap pekannya.

Kerennya, pengelola BB TNGGP (Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango) membuat pembatasan jumlah pendaki tiap harinya untuk menjaga daya tahan gunung menampung jumlah pengunjung dengan cara kuota. Maksimal hanya 600 pendaki per hari yang diperbolehkan naik melalui 3 jalur pendakian (100 orang melalui jalur Selabintana, 200 orang melalui jalur Gunung Putri, dan 300 orang melalui jalur Cibodas).

Cara seleksinya? Ya dengan cara booking itu. Online Bro! Bisa juga datang langsung, tapi tetap saja, untuk mengecek kuota per hari yang tersisa, Anda masih harus membuka situs booking TNGGP. Di Balai Besar disediakan komputer bagi Anda yang datang langsung, Untuk Booking Dulu Juga!! Haha, sering-sering cek kuota ya kalau berencana mendaki di akhir pekan atau hari libur nasional. Transaksinya realtime dengan menunjukkan secara jelas jumlah kuota, jumlah daftar tunggu, dan jumlah pendaki yang telah disetujui. Mirip kalau pesan tiket kereta online lah… Mantap!

Secara singkat prosesnya (Anda bisa mencari web lain yang membahas tata cara booking TNGGP kalau mau lengkapnya, sudah banyak kok) sebagai berikut:
  1. Klik di pilihan tanggal booking, yang masih biru alias masih bisa di klik ya… Kalau udah ngga bisa di klik berarti udah full booked. Jauh-jauh hari makanya sudah harus booking.
  2. Isi data identitas ketua dan rombongan selengkap-lengkapnya (minimal 3 orang dalam satu rombongan). Jangan salah isi ya. Soalnya pengalaman kemarin saya ada salah isi dan ngeditnya susah bener. Males kan…
  3.  Anda akan dapat kode booking untuk login di web dan mengecek status perizinan Anda.
  4. Ikuti petunjuknya sampai keluar nominal yang harus dibayar dan bank tujuannya. (April kemarin saya masih Rp7.500 per orang, ngga tahu sekarang berapaan).
  5. Bayar ke bank/atm. Slip transfer jangan dibuang ya, wajib dibawa nanti!
  6.  Setelah transfer, konfirmasikan pembayaran ke web tadi dan tunggu beberapa hari sampai ada notifikasi email kalau booking Anda disetujui (cek terus tiap hari).
  7.  Print screen dan Print deh halaman yang menginformasikan kalau “booking anda telah disetujui”.
  8. Proses belum selesai. Anda masih harus datang ke Balai Besar di Cibodas untuk menukar bukti booking di poin 7 tadi dengan simaksi (izin pendakian resmi) dengan dilengkapi fotokopi ktp semua rombongan, bukti transfer, dan tandatangan surat pernyataan bermaterai Rp 6.000. Bawa Materai sendiri ya biar gak repot beli keluar lagi. Jadi tetap harus datang ya meski daftar online? Ya, tapi bisa kok tukarnya pas sebelum Anda naik. FYI, BB TNGGP baru buka jam 9 pagi, ditambah antri dsb, kalau Anda mau tukar di tempat sebelum naik konsekuensinya Anda bisa kesiangan memulai pendakian.
  9.  Di pos sebelum mendaki (pos Montana kalau ngga salah), simaksi Anda akan di cek. Jumlah personil, kelengkapan peralatan, seleksi barang-barang yang boleh dan tidak boleh dibawa seperti sabun, odol, miras, senjata api, dsb. Logistik Anda juga akan dicek kecukupannya dan untuk kroscek juga sampah apa yang harus dibawa turun nanti.
  10. Setelah lolos di pos Montana, berarti tuntas sudah simaksi nya dan Anda adalah pendaki sah Gunung Gede Pangrango. Selamat!

Ribet ya? Enggak kok, langkahnya jelas dan mudah dengan petunjuk pengisiannya banyak bertebaran di internet. Kita pendaki cerdas dan bertanggungjawab, kan? Proses yang panjang itu membuat saya makin excited selama menunggu booking disetujui sekaligus yakin, bahwa alam Gede Pangrango masih akan terus bertahan sampai beberapa dekade ke depan.
suasana di Balai Besar TNGGP
mbak-mbak itu bersembilan sudah bawa carier tapi gagal naik

Maket replika Taman Nasional di Balai Besar
Catatan:

Saya melihat sendiri beberapa kasus gagal naik meskipun sudah datang dari luar kota bawa kerier dan rombongan ke Balai Besar. Diantaranya:
-       Sudah booking dan bayar, tapi belum diterima email konfirmasi kalau sudah di approve. Mungkin dia bayarnya telat, kelamaan mikir sampai kuota nya penuh dan dia ngga sadar. Atau mungkin juga kuotanya sudah penuh tapi nekat bayar sehingga dia tak kunjung menerima email konfirmasi.
-          Maunya pakai ‘orang dalam lewat jalur nerobos2’. Bukannya dipermudah, malah dia dimarahi sama petugas (salut sama petugasnya, semoga istiqomah). KKN kok dipelihara dan dibawa ke gunung! Huuu.
-          Agen perjalanan, mau pakai ‘jalur samping’ juga. Tetap ditegaskan kalau dia harus cek kuota dan nggak bisa lebih dari kuota tersisa.
-          Ada juga yang baru datang mau langsung naik pakai marah-marah. Dalam hati ingin rasanya saya bilang, “ke laut saja Bro, ngga pakai ribet
         

  

3 comments:

  1. numpang nanya mas, kalau ganti personil bisa ga ya? temen saya dadakan sakit, jadi ga bisa ikut. email ke TNGP belum dibalas.
    mohon infonya
    makasih

    ReplyDelete
    Replies
    1. kayaknya sih bisa aja, jadi diakalin nih mbak, temen yang nge gantiin itu tetap pakai fotokopi ktp/ id temen yang sakit itu. Pengecekannya ngga sedetail keaslian personil kok. istilahnya, 3 simaksi, ya 3 orang, dan 3 id. Gitu..

      Delete