Wednesday, 2 January 2013

Semeru Hari 3 (2): Rute Baru, Ayak-Ayak

Tenda kami di Archapada,
setelah berdiri, beberapa menit kemudian hujan deras
....Subhanallah, sungguh saya bersyukur berkesempatan melihat sunrise dan wedhus gembel Mahameru di penghujung Desember yang basah ini. Kami sangat-sangat beruntung.      

Tidak hanya masalah sunrise dan wedhus gembel, tapi perjalanan kami memang sepertinya sangat diberkahi. Bagaimana tidak, di musim penghujan yang basah ini, kami hanya mendapati gerimis kecil saat berangkat, bahkan panas saat naik dari Ranu Kumbolo ke Kalimati, dan hujan deras sepersekian menit ketika tenda kami sudah berdiri di Archapada.

Kembali melanjutkan cerita hari 3, setelah puas mengagumi segala penjuru di Mahameru, kami turun. Kali ini saya dapat melihat jelas jalur yang tadi 4,5 jam saya daki. Hehe, bisa juga ya rupanya mendaki setinggi ini. Antara tidak percaya dan takjub.

Turunnya tidak susah, tapi sakit. Ujung-ujung jari kaki harus berdarah-darah mengerem setiap tubuh ini meluncur tak terkendali. Kalau tak berhenti juga, saya menjatuhkan –maaf- pantat saya ke pasir dan “plusurrr” persis seperti TK dulu pas main perosotan pasir di tetangga yang lagi bangun rumah (cuman ini pasirnya segede gunung, ehehe).

Sampai Archapada hanya sejam lebih sedikit dan sampai tenda pukul 9. Langsung tertidur kami mengingat air juga tidak cukup untuk masak.

Kami putuskan untuk segera mengemasi tenda dan bergegas menuju Ranu Kombolo sebelum hujan deras. Air kami sudah habis. Di kalimati kami meminta sebotol air ke pendaki lain untuk lima orang sampai Ranu Kumbolo.

Tidak sarapan dan dehidrasi, membuat saya (dan saya yakin teman-teman lain juga) lemas. Sedikit-sedikit break. Hampir saja saya memutuskan untuk menyuruh 4 orang lain pergi duluan ke Ranu, dan saya menyusul di belakang. Kasihan kalau harus berlama-lama gara-gara sering break. Sampai akhirnya, di Jambangan, saya berpapasan dengan teman sekosan dulu pas di kampus, Ferdhi, dan saya minta rampok crackers dan minumnya. ^^v

Mood booster yang baik rupanya berjumpa teman di gunung. Walhasil, melintasi Cemoro Kandang, saya sprint tak lebih dari 40 menit. Sesekali berhenti memberi kesempatan pendaki lain yang mau naik sambil berkata “Ganbatte”! Ya, menyemangati pendaki lain selalu asyik!
Jalur "atas" Oro-Oro Ombo.
Banyak Crop circle di bawah
Lepas cemoro kandang, kami melalui Oro-Oro Ombo jalur atas. Kami melipir ke kanan kearah bukit yang naiknya tidak terlalu terjal. Dari atas, terlihat banyak tulisan-tulisan di sabana Oro-Oro Ombo mirip crop circle. Ketahuilah wahai para penulisnya, vandalisme (?) ini harus dihentikan. Bukannya bagus, malah bikin Oro-Oro Ombo lubang-lubang nggak jelas. 

Finally, Ranu Kumbolo again. Lagi-lagi kami beruntung. Sesaat setelah berteduh, hujan turun deras. Sambil menunggu hujan reda, kami habiskan (masak) semua logistic agar tak terlalu berat, sisa mi instan dan bubur kami bagi ke pendaki lain. Oiya, Minum sepuas-puasnya air Ranu.

Kami putuskan pulangnya tidak lewat jalur kemarin (Landengan Dowo-Watu Rejeng) yang makan waktu 5-6 jam. Kami pilih jalur G. Ayak-ayak yang katanya bisa cuma 4 jam saja. Padahal, tidak seorang pun dari tim ini yang pernah lewat jalur ini.

Bukit Teletabis Rute Ayak-Ayak
Setelah tanya dan cukup yakin, kami berangkat. Saat itu pukul 4 sore. Setengah jam pertama, jalurnya indah sekali. Jalan setapak yang dikelilingi Bukit Teletabis dimana-mana. Selanjutnya mulai naik, naik, dan naik terus. Rasanya tiada habisnya. Ini seperti Archapada kedua yang didaki dengan stamina sisa belasan persen bekas summit. Gunung Ayak-ayak! Ayak ayak wae atuh (sunda gagal)

Dari atas Bukit Teletabis
Tepat sampai pucak saat adzan magrib (serius kedengar jelas adzannya). “Bentar lagi” batin saya. Lha wong kampung nya udah dekat kok. Ternyata jalan menurun setidaknya masih 2 jam lagi. Haha. *lemes

Pakai acara tersesat ke ladang penduduk pula. Awalnya mau nanya sekaligus minta air putih saja tapi malah disediakan makan malam plus teh panas plus perapian yang hangat. Wogh, Bapak Ibu-yang kami tidak tahu namanya- terima kasih banyak ya… Mugi Gusti Allah nyembadani.

Numpang tidur ya, Rakyat Tumpang.
Nuwus.

Sampai Pos Ranu Pane jam 9 malam, lapor, dan dapat Truck terakhir ke Tumpang. Terkantuk-kantuk sambil nunggu diberangkatkan! Sampai Tumpang jam 12.30. Kami tidur di musola –semacam- Balai Desa, Tumpang untuk cari angkot ke arjosari besok pagi.
Sebelum tidur, tiada habis keheranan saya mengingat, betapa banyak hal yang saya alami 3 hari ini. 


Ah, pundak dan kaki (dan sekujur tubuh sebetulnya) ngilu semua, but at least, I have something to be shared to my grandchild someday... Well, thank you, universe.
 

No comments:

Post a comment