Wednesday, 2 January 2013

Semeru hari 1: Ranu Pane- Ranu Kumbolo

Tuhan, tolong jaga Semeru kami, biar nanti anak cucu kami bisa merasakan apa yang telah kami rasakan hari ini.
simetris dalam harmoni Ranu Kumbolo

Semoga, ia tetap seperti ini
setahun, sepuluh tahun, dan seribu tahun lagi
  
Dari dalam angkot perjalanan pulang selepas terminal Tumpang menuju Arjosari seorang teman berceletuk:

“lhaiyo, wis ngerti gunung sak dukur kui kok yo nekat dipenek-i” (lha iya, sudah tau Gunung setinggi itu (sambil nunjuk Puncak Mahameru) kok ya nekat didaki)
“Ora dipenek-i yooo, mbrangkang!” (bukan didaki ya, merangkak!)
“Wis adhem, petheng, wayahe wong liyo penak turu selimutan kok kene yo gelem soro tenan” (Sudah dingin, gelap gulita, waktunya orang lain tidur nyenyak berselimut kok kita mau sengsara betul)
“haha”

Percakapan singkat tersebut membuat saya tertegun, Iya ya, apa motivasi saya modal nekat naik Semeru?

Meskipun tidak 100% direstui orang tua, Meskipun cuaca sedang galau-galaunya, Meskipun baru saja Semeru ditutup karena ada pendaki hilang di sana, dan Meskipun saya sendiri ragu, apakah saya bisa.

Hey Guys, kalau kita mengkhawatirkan segala hal, tidur saja terus di kamar dan jangan keluar. Lalu Anda akan mendapati Anda tiba-tiba menjadi tua tanpa tahu, ada apa di luar sana. Dunia ini luas Bro, jelajahilah!
Rute (lansekap) Semeru
Sabtu, 22 Desember kami bertiga berangkat dari Mojokerto >> Japanan >> Malang Arjosari >> Tumpang >> Ranu Pane >> Ranu Kumbolo. Udah.

Ranu Pane
Gitu aja? Tidak sesimpel itu Bung!
Arah dari Surabaya sampai Malang macet parah. Maklum libur panjang. Bis-bis pariwisata memenuhi jalanan. Planning yang dibuat agar sampai Ranu Pane agak siang pun terpaksa molor.


Oiya, Syarat pendakian adalah:
  • Fotocopy KTP 2 lembar
  • Materai Rp6.000, 1 tim 1 lembar
  • Fotocopy Surat Keterangan Sehat 2 lembar
  • Uang Retribusi per orang Rp7.000 (rinciannya Rp1.250 untuk Karcis Masuk Mahasiswa, Rp2.000 untuk asuransi, dan sisanya Rp3.750 untuk apa saya lupa)
  • Mendaftar dan mengisi surat Ijin dan Surat Pernyataan di Pos Ranu Pane.
Sampai Tumpang jam 12.30 siang, padahal dari Mojokerto jam 7 pagi. Tumpang Mati listrik, padahal saya belum fotokopi KTP dan Surat Sehat. *dead

Beruntung kami bertemu rombongan komunitas @infogunung yang sekaligus mengajak kami bareng naik Truk ke Ranu Pane. Katanya sih tak apa nggak pakai fotokopian, yang penting KTP asli dan SS asli nya ditinggal. Fyuh finally~
Merinding bacanya,
pendaki, gw???

Sampai Ranu Pane jam 15.15 dan kami bertemu dengan 2 teman lain yang janjian mau berangkat bareng dari Jogja. 5 orang di tim ini hanya satu yang pernah ke Semeru, satu orang pecinta alam, dan sisanya, adalah modal nekat termasuk saya.

Jam 16.00, ditemani gerimis kami mulai jalan mengambil jalur umum watu rejeng melalui perkebunan kentang penduduk, sampai ada gapura “Selamat Datang – Para Pendaki Gunung Semeru”. Melipir ke kiri ke arah bukit, sedikit menanjak melalui jalan berpaving. Stamina dan Semangat masih 100%. Kami sama sekali tidak berhenti sampai Pos 1, Landengan Dowo. 3 km ditempuh dalam 1 jam. Di Pos, kami bertemu berbagai macam pendaki sambil istirahat sejenak.
The mist of lake

Lanjut ke Pos 2 yang jaraknya tidak terlalu jauh. Namun, asam laknat laktat mulai datang tak dijemput di sekujur tubuh. Dari Pos 2-3 kami melewati daerah Watu Rejeng. Jaraknya lumayan jauh, kami mulai melambat. Sedikit-sedikit break. Sebentar-sebentar terpeleset. Dari Pos 2 kami menyalakan senter karena sudah gelap. Sepatu dan kaos kaki saya sudah basah kuyup akibat beceknya jalur. Semak belukar yang tumbuh extra subur pun siap menggores kalau tak siaga.

Waktu itu pos 3 rubuh, jadi kami lanjut ke Pos 4. Jeng-jeng, terbentang tanjakan selamat datang yang curam dan licin. Lembah menganga di bawahnya. Saya 5 kali terpeleset (untung nggak masuk lembah :roll) karena tiap mau berdiri, sepatu sudah licin kena lumpur. Cukup lama tim ini harus bersabar menunggu saya bisa melalui tanjakan ini. Ketika berhasil sampai atas, terhampar gemerlap lampu kota di kejauhan, amazing.

Sampai Pos 4 sudah jam 20.00, dan telah terlihat Ranu Kumbolo yang luasnya 15 Ha. Kupikir sudah dekat, ternyata tidak. Masih sejam lagi kami menuruni bukit-bukit untuk sampai di Pos Ranu Kumbolo.
Asyik, rame
Yang bisa saya indra saat itu hanyalah gelap danau yang dingin, kabut tebal, aroma indomi, dan senter-senter dari dalam tenda pendaki lain. Syahdu!

Jam 21 kami mendirikan tenda dan mulai memasak nasi lauk sarden. Tepat tengah malam kami baru masuk Sleeping Bag lengkap dengan kaos kaki, sarung tangan, kupluk, dan jaket yang masih saja terasa dingin. Di papan informasi, saat musim kemarau suhu di sini -5 s/d -20 derajat celcius lho. 

Bersiap menyambut pagi di Ranu Kumbolo yang kata temen, "surganya Semeru". Hmm, lets see.

2 comments:

  1. nggak bahaya ya san nyemeru musim gini?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau sampai Kalimati dan mematuhi aturan sih insyaAlloh aman (dengan catatan: siap lahir batin).

      duh, saya juga bukan pakar naik gunung e, Nin. Coba tanya expert saja koyoto, PA, ranger, dll. Tapi dengar2 jalur pendakiannya udah ditutup sementara, kalo gak salah 4 bulan kalo Januarian gini.

      Delete