Sunday, 17 April 2011

Karena Mereka Dinamakan “Mahasiswa”

Tahukah Anda, kenapa ada kata “maha” dalam mahasiswa? Dalam penggunaan kata yang lain, Maha Penyayang berarti memiliki sifat paling penyayang, tidak ada yang lebih dari itu. Mahaadil berarti paling adil dan Maha Esa berarti tiada duanya. Kesemua itu ada pada sifat Tuhan, yang Maha Penyayang, yang Mahaadil, yang Maha Esa dan hal ini jelas tak terbantahkan.

Bagaimana dengan mahasiswa? Analog dengan di atas, seharusnya mahasiswa adalah kedudukan paling tinggi untuk sebutan siswa. Hal ini didukung fakta bahwa tidak ada lagi jenjang pendidikan formal lebih tinggi selain perguruan tinggi. Selain itu, mata kuliah yang diajarkan di bangku kuliah memang yang paling mutakhir dibandingkan dengan pelajaran sebelumnya. Baiklah, asumsikan kita berada pada kondisi ideal dan definisi tersebut dapat diterima. Namun sebenarnya di dunia ini, tidak ada kondisi seratus persen ideal tapi mari jangan mempermasalahkan hal itu dulu.

Dengan berbagai keistimewaan tersebut, mahasiswa adalah satu “kasta” elit dalam masyarakat. Mereka dianggap sebagai golongan pelajar paling intelek di suatu negara. Jika kita sering mendengar bahwa para generasi muda adalah calon penerus perjuangan bangsa, calon pelari estafet berikutnya, maka mahasiswa ibarat seorang pelari estafet berikutnya yang tengah disodori tongkat untuk berlari kencang dan bersaing melawan pelari lainnya.

Oleh karena itu sudah selayaknya mahasiswa berada di garda depan dalam membela urusan bangsanya atau paling tidak, peduli terhadap nasib bangsanya baik di dalam negeri (isu lokal dan nasional) maupun di luar negeri (isu internasional).

Di forum internasional, seharusnya mahasiswa Indonesia sudah mampu bersaing dengan yang lainnya dengan jalan berfikir cerdas dan inovatif demi kejayaan masa depan bangsa ini. Paling tidak, seorang mahasiswa Indonesia harus punya semangat untuk menghidupkan kembali kejayaan Sriwijaya atau Majapahit yang begitu masyhur dan dominan di ASEAN.

Menghadapi isu lokal dan nasional, mahasiswa wajib membuka mata dan memasang telinga terhadap masalah bangsa ini. Mereka harus melihat setiap ketimpangan ekonomi, mencermati bagaimana legeslatif, eksekutif, dan yudikatif bekerja serta mengamati pergolakan masalah sosial. Mereka harus memasang telinga untuk mendengar ketidakadilan yang dirasakan masyarakat, kesewenang-wenangan penguasa, juga indikasi penyelewengan uang negara.

Lantas, apa yang harus dilakukan oleh mahasiswa? Tentu saja ada banyak alternatif yang bisa dipilih, yakni melalui cara lisan (termasuk aksi) atau tulisan.

Melalui lisan artinya setelah mendengar dan melihat, mahasiswa berbicara secara vokal mengkritisi isu yang ada. Demonstrasi dengan turun ke jalan adalah cara populer akhir-akhir ini. Sangat disayangkan bahwa banyak juga tindakan tidak terpuji sering muncul dalam sebuah demonstrasi seperti perusakan fasilitas umum, tawuran, dan aksi-aksi yang berlebihan. Hasilnya, mulai muncul pandangan negatif masyarakat terhadap aksi mahasiswa. Lebih parah lagi bila masyarakat luas mulai menggeneralisasi setiap mahasiswa hobi berdemo dan melakukan tindak anarkis. Jika sudah demikian, maka aksi lisan dengan turun ke jalan menjadi tidak efektif lagi.

Kini saatnya mahasiswa beralih ke cara tulisan. Dengan berbagai keistimewaannya, saya yakin mereka mampu. Mata kuliah yang diajarkan di perguruan tinggi kebanyakan mata kuliah terapan. Maksudnya, yang setiap hari dipelajari mahasiswa adalah materi yang paling mendekati kondisi nyata bila dibandingkan dengan sekedar teori dan rumus dalam buku teks siswa SMA atau SMP. Selain itu, kematangan pola pikir membuat mahasiswa sudah layak untuk mengomentari isu-isu lokal, nasional, dan internasional dalam sebuah tulisan yang dipublikasikan. Kombinasi antara materi kuliah sebagai landasan teori, rasa risih untuk melawan ketidakadilan, serta kematangan pola pikir adalah bahan bakar yang selalu siap kapan saja untuk berkobar. Hanya butuh api kecil berupa “niat” untuk menghasilkan tulisan.

Wikipedia (http://id.wikipedia.org/wiki/Menulis) mendefinisikan menulis sebagai suatu kegiatan untuk menciptakan suatu catatan atau informasi pada suatu media dengan menggunakan aksara. Ada banyak media publikasi mulai dari majalah dinding kampus sampai koran bertiras jutaan eksemplar di seluruh dunia. Tentu saja mahasiswa mampu menulis di koran. Dengan menulis di koran, akan ada banyak sasaran yang tercapai. Pihak yang dikritik tentu akan membaca tulisan yang ditujukan kepadanya ditambah meluasnya informasi ke masyarakat diharapkan membuat efek malu dan jera. Pemikiran masyarakat juga dapat berubah berkat membaca tulisan tersebut.
sumber: http://v-images2.antarafoto.com/gor/1281095411/olahraga-lari-estafet-putri-11.jpg

Akhirnya, setiap mahasiswa harus menyadari bahwa pelari estafet jaman sekarang sudah memiliki standar kecepatan yang sangat tinggi. Mahasiswa harus mengoptimalkan setiap hari yang ia jalani serta menghasilkan value added khususnya bagi masyarakat. Tulisan mampu menjadi sarana mewujudkannya dan koran menyempurnakannya sebagai media yang layak untuk memperdengarkan keadaan bangsa ini.

1 comment: