Sunday, 6 April 2014

Surga di Pantai Selatan Lombok Timur



Lombok begitu populer akhir-akhir ini. Dan tentu saja, saya tak mau ketinggalan. Akhirnya, Desember 2013, saya ambil cuti beberapa hari untuk bisa mendapatkan 11 hari pendakian Rinjani sekaligus liburan di Lombok.

Lombok paradiso! @ no name beach
Sepulang dari Rinjani, kaki lecet semua, pinggul, dan pundak pun kelebihan asam laknat laktat akibat memanggul karier 20 kg yang basah selama 3 hari. Harusnya hal itu menjadi alasan yang logis untuk mengistirahatkan sejenak di kasur yang empuk. Namun, tidak bagi saya, eman sudah jauh-jauh ke Lombok, kok malah tidur.

Langsung saya cari rental motor, dan cuss, sorenya sudah jalan-jalan di Pantai Senggigi, Nipah, dan dapat sunset di Pantai Malimbu.

Hari selanjutnya, setelah perih di sekujur kaki sudah bisa diajak kompromi, saya siap untuk melakukan perjalanan panjang lagi. Subuh buta kami sudah mandi dan mempersiapkan motor sewaan kami. Berbekal dengan selembar peta dan setangki penuh bensin di motor, kami menyusuri jalan panjang ke Lombok Timur. Dari Mataram di tepian selat Lombok hingga Jerowaru di tepian selat Alas memakan waktu sekitar 3 jam perjalanan motor. Ada dua alternative jalan besar yang bisa diambil. Melalui jalur tengah, ataupun jalur selatan (bandara Praya). Saya pilih jalur tengah untuk berangkat dan jalur selatan untuk pulangnya. Jalur tengah lebih berbukit-bukit.

Sepagi itu belum banyak kendaraan yang melitas di jalan raya. Jalanan yang rindang, Rinjani di sebelah kiri, dan persawahan di sepanjang jalan, membuat hati ini bersenandung riang. Perasaan yang sama ketika berkendara di pelosok Kintamani atau pedalaman Gunungkidul. Ahh, nikmat Tuhan yang manakah yang kau dustakan?

Sesekali jalanan melintasi ibukota kecamatan yang ditandai dengan perempatan yang ramai dengan cidomo (cikar, dokar, motor), pasar yang ramai dengan aneka hasil bumi, dan tentu saja, ATM. Selepas terminal Sweta, pusat keramaian yang dilalui adalah Narmada, Sedau, Mantang, Kopang, Terara, dan Sikur. Di sepanjang jalan itu pula, saya mendapati banyak papan penunjuk objek wisata yang sayang sekali tidak sempat saya kunjungi karena terbatasnya waktu; seperti Taman Narmada, Air terjun Benang Setokel, Otak Kokok, dan Jeruk Manis. Mudah-mudahan lain kali.


Di Kecamatan Sikur, ambil jalan ke selatan menuju Sakra dan Keruak. Mulai dari Sikur, jalanannya tidak sebesar jalan provinsi seperti sebelumnya dan mulai diperlukan tanya di sana sini agar tidak tersesat. Di Desa Pemokong, terdapat pertigaan yang ke kanan ke arah Ekas sedangkan ke kiri ke arah Temeaq/ Pantai Pink. Saya ambil arah kiri terlebih dahulu.


Pantai Cemara.

Berawal dari kepedean saya yang nekat saja mengikuti aspal tanpa bertanya penduduk lokal, akhirnya saya menemukan pantai ini, padahal niatnya mau ke Pantai Pink.
ini masih indonesia lho Bro.
 Sesuai namanya, di Pantai ini terdapat beberapa pohon cemara yang tumbuh di  antara pasir putih dan semak-semak berduri. Saat itu sepi-eh bahkan tidak ada satupun pengunjung. Belum ada jejak kaki manusia, hanya ada jejak kaki anjing dan kepiting. Pantainya putih dan memantulkan sinar matahari, silau sekali. Di samping pohon cemara terdapat bukit untuk memandang pantai dari ketinggian. Ternyata panjang juga garis pantainya. Di atas bukit ada 4 pohon yang membentuk segiempat. Sungguh fotogenik jika foto di tempat itu dengan begron birunya langit dan air laut yang bergradasi. Saya jadi ngiler pengen foto prewed di sana.
I love this beach. Smooth sand as baby powder
 Yang paling saya suka dari pantai ini adalah pasir nya yang selembut bedak. Jadilah sebotol pasir dari sini saya bawa pulang untuk kenang-kenangan.


Pantai Semerang.

Beberapa kilo dari pantai Cemara terdapat pondok bambu. Lengkap dengan perahu nelayan, beberapa gubuk, dan juga hamparan rumput laut yang sedang dikeringkan. Pantai ini ramai dengan penduduk lokal yang mencari nafkah dari melimpahnya hasil laut pantai selatan. Anak-anak kecil bertelanjang dada tetap tertawa riang ketika difoto meskipun udara saat itu terik sekali. Mereka ramah dan dari merekalah pula saya tahu nama pantai ini.

Meet them, they are so kind!
Pasirnya tidak sehalus pasir Pantai Cemara. Pantainya pun banyak ditumbuhi rumput laut sehingga membuat warnanya agak kecoklatan. Kurang menarik dari segi estetika, tetapi, pengalaman bercengkrama dengan anak-anak lokal di bawah gubuk beratapkan daun kelapa sungguh patut dicoba.


Pantai Tanjung Bloam

Nah, seharusnya, dari SMPN 1 Jerowaru ambil jalan belok kiri di pertigaan yang jalannya rusak parah, bukan lurus yang ke Pantai Cemara tadi. Masih ada sekitar 5 km dengan kondisi jalan berlubang biasa hingga berlubang yang digenangi air seperti kolam (sapi).

Di tengah perjalanan, terdapat pintu masuk pantai Tanjung Bloam yang dipagar kawat berduri dan dijaga dua satpam galak. Katanya pantai itu sudah dibeli oleh orang Jerman bernama mister xxx (lupa -.-“) dan sudah dibangun resort. Jadi hanya pelanggan saja yang boleh masuk kesana.

Damn, mana bisa seperti ini? Pantai kan barang publik. Apalagi dibeli bule. Huff, Indonesia… Malas berdebat dengan dua satpam itu, saya putuskan untuk cari pantai lain saja.


Pantai Pink/ Temeaq

cute, isn't it?
Hanya ada 7 pantai berwarna pink di dunia ini (versi on the spot kali ya), salah satunya di Indonesia, di Pulau Komodo. Lhah? Kok di Lombok ada pantai pink juga? Ada 8 dong jadinya?

Terlepas dari kontroversi jumlah pantai pink di dunia, saya yakin bakal ada lagi pantai pink kesembilan kesepuluh dst yang nantinya akan ditemukan publik di dunia atau bahkan di Indonesia, sebab pasti banyak pantai terpencil yang belum dieksplor/ ditemukan.

Jalan ke pantai pink lebih parah lagi. Pepohonan yang rimbun membuat seakan berjalan di terowongan pohon. Sesekali kita bisa menjumpai gerombolan sapi yang sedang berkubang lumpur di tepi jalan. Ah, tentu saja saya berhenti dan memotret mereka. Sudah lama sekali saya tidak menemukan pemandangan seperti ini.

Sudah ada beberapa pondok di atas bukit di pantai Pink ini. Kamar mandi dan warung-warung pun sudah tersedia. Meskipun jauh, banyak turis asing yang berduyun-duyun ke sini.

Menurut penduduk lokal, pantai ini sudah tidak se-pink dulu karena telah tercampur dengan tanah daratan. Landscape yang sempurna dengan bukit-bukit, pasir kemerahan, dan ombak kecil karena terhalang beberapa pulau yang seolah terapung mengepung pantai ini. Beberapa perahu tertambat di pantai menawarkan pengunjung yang hendak menikmati pemandangan melintasi pulau-pulau kecil tersebut menyusuri Pantai di sepanjang Jerowaru ini.

Warna pink katanya berasal dari pecahan kerang2 warna merah
yang dominan di sini.
Pantai Batu Dagong

Setelah dari Temeaq, saya memilih balik arah untuk menuju kawasan Ekas. Pantai pertama yang saya jumpai ini juga karena tersesat. Kali ini bukan karena tak mau bertanya, tapi memang karena tak ada penduduk lokal untuk bertanya arah. Bahkan saya tak tahu bagaimana cara turun ke pantainya. Saya Cuma mendapati jalan yang berakhir di tepian bukit. Jadilah kami hanya foto-foto dari atas bukit.
Ada pantai di bawah bukit itu.
Cuma saya nggak tau gimana cara turunnya.
 Pantai Sungkun

Setelah bertemu dengan seorang penduduk lokal, saya baru tahu kalau pantai yang di atas bukit tadi bernama Batu Dagong. Dan beliau juga menunjukkan jalan ke pantai lain yang biasanya dicari turis untuk selancar.
Alone Alone! Salah satu favorit saya, cakep!
Pulau kecil di Sungkun, Subhanallah

great barrier coral di Sungkun
Jalan ke Pantai Sungkun dipenuhi ilalang tinggi dengan bunga putih yang melambai tertiup angin. Ketika motor saya berhenti di tepian jalan, sesaat saya menahan nafas. Maha Karya sang Pencipta terpampang di depan mata. Dua buah pulau yang digempur ombak besar-besar mengapung di kejauhan. Pantai di sini dibatasi oleh batuan yang memanjang menghalau gelombang laut yang tinggi. Pasirnya putih bundar-bundar dengan tekstur seperti merica. Tidak ada orang di sana.

Sekilo dari pantai itu, terdapat padang rumput luas dengan bukit-bukit teletabis yang mengingatkan saya akan Jalur Ayak-Ayak Gunung Semeru. Saya ikuti saja jalan setapaknya dan ternyata ia berakhir di pinggir pantai (entah namanya apa) juga. Lagi-lagi tak ada orang. Ahhh, indahhh sekali.
di pantai tak bertuan tak bernama
Ini nyata, di pinggir pantai, bukan di Semeru!
Pantai Surga dan Pantai Planet

Saya mengakhiri perjalanan tur pantai selatan Lombok Timur dengan kurang manis. Saat itu sudah pukul 16.00 dan saya masih berniat blusukan cari pantai-pantai lain. Ada papan penunjuk kedua pantai tersebut. Namun di tengah jalan saya dihadang oleh seorang lokal berkulit coklat, bermata merah, dan berseragam. Dia mengancam agar jangan pernah coba ke Pantai Surga demi keselamatan. Katanya jalannya rusak dan becek dimana-mana sehingga susah dilalui motor, Padahal jelas-jelas saya melihat beberapa turis asing dengan motor matic dan papan selancar berbelok ke arah pantai itu. “Nggak usah saja Mas, lebih baik pulang. Tidak aman” katanya dengan mulut bau alcohol. Terpaksa saya mengalah karena sudah agak sore dan sinyal hp pun tak ada sama sekali sehingga akan sulit menghubungi siapapun kalau terjadi apa-apa, mana masih tiga jam kan ke mataram. Hihi. Coba agak siang dikit, pasti saya nekat ke kedua pantai tersebut. Namanya itu lho, bikin penasaran. Pantai Surga meeen!!

Mission to Heaven incomplete. Next time maybe!
Sebetulnya masih banyak sekali pantai cantik yang ada di semenanjung Jerowaru dan Ekas tersebut kalau kita mau terus menuruti rasa penasaran akan setiap persimpangan jalan. Seperti Pantai Tanjung Ringgit (yang katanya ada mercusuarnya), Ujung Ketangga, Sekarah, Tanjah-anjah, Penyu, Putit, Bagik Cendo, dsb. Semoga lain kali ada kesempatan kesana lagi, sebelum makin banyak Pantai yang dibeli/ dibangun resor oleh orang asing dan dipasang kawat berduri.  

Selamat merencanakan perjalanan ke Lombok ya, Anda. 

   
  



No comments:

Post a comment