Thursday, 1 December 2011

Hari 3: Uluwatu


Setelah menuntaskan transaksi sewa motor, kami bergegas ke selatan. Di peta sih simple, dari Legian, lurus saja ke selatan sampai Nusa Dua, lalu, pantai dreamland, Uluwatu, dan GWK tinggal searah saja. Tapi itu teorinya doang! Praktiknya, ketika ada jalan yang berlaku satu arah maka tiba-tiba bingung baca petanya.

Dari kosan menyusuri Poppies Lane, dan ternyata, jauh juga kosan kami dari jalan Pantai Kuta. Ditambah gang-gang yang bejibun memudahkan kita untuk tersesat kalau jalan sendirian. Ketua rombongan kali ini adalah Sinaga yang pegang peta. Lanjut dengan mengisi minyak (minyak adalah sebutan orang Batak untuk bensin/premium, awalnya saya ngakak dengarnya, tapi lama-lama terbiasa juga) di pom bensin terdekat.

Sedikit berbicara kostum, semua, kecuali Ahmad, Iza, dan Mbak Amel yang pakai celana serta lengan panjang, kami bertujuh pakai celana pendek dan lengan pendek. Secara, mau ke pantai. Kalau di film-film kan pakaiannya kayak gitu toh (korban keganasan sinetron, zzz). 10.30 WITA. Cuaca cerah.
Status FB saya saat itu kalau nggak salah: “day 1: Kuta+Uluwatu+GWK+Dreamland+salah kostum=gosong”. Dan banyak yang nge-like coba! Memang suka orang-orang di luar sana kalau kita menderita.
Pelajaran No.5: Jangan suka ngeluh di FB, di blog saja
àzzz (pelajaran gagal! Remedy!)

Jalan raya yang panjang pun kami tempuh. Tiba-tiba, ketua rombongan putar balik di perempatan dan menuju KFC. Mau makan? Oh tentu tidak. Ternyata kami kedatangan satu tamu istimewa lagi. Lia, sebut saja begitu. Seumuran, rambut sebahu, jaket ungu, gadis jawa, teman masa kecilnya Dio (cie cie), kuliah di Sekolah Tinggi Pariwisata Nusa Dua, Bali. Dan dia bersedia jadi guide kami hari ini.

Thanks God, berakhir sudah acara nebak-nebak peta yang mengharukan hari ini.

Dari acara kenalan-kenalan, kami lalu diantar ke kompleks tempat ibadah terdekat (dan mungkin satu-satunya!) di Nusa Dua untuk menunaikan kewajiban kami sebagai muslim. Wah, berkesan lho saudara-saudara, di sana ada kompleks yang isinya 5 tempat ibadah, Masjid, Gereja, Katedral, Pura, dan Wihara dalam satu pagar. Dan buk`n Bali kalau bangunannya dibikin dengan biasa-biasa saja. Kelimanya sangat artistik.

Usai njamak dzuhur dan ashar, kami, yang baru kenal bentar dengan Lia, mampir (baca:menjarah) kosannya di depan kampus STP. Semuanya yang ada (harus terpaksa) disuguhkan. Mulai air mineral yang direfill (FYI, kami kemana-mana bawa botol minum, biar bisa refill dimana-mana selama ada kesempatan), keripik, jus jambu, dsb. Kasihan Lia. Beginilah kalau disinggahi backpacker. Lia baik deh ya. Arigatou. Sukses kuliahnya. :D:D
 Pelajaran No.5: jangan shock kalau rumah Anda disinggahi backpacker.

Lalu kami diantar cari makan di sekitaran kampus. Bukan warung muslim sih, tapi Ibu Kadek itu (nah, sotoy lagi) dengan baik hati dan sabar meladeni request 10 orang yang hampir sama bicaranya “yang nggak pakai babi ya buk, lauknya yang halal aja”. Lauknya nggak jelas apa saja (kayaknya sih lodeh, campur ayam suwir, sate, ikan, dll) tapi enak betul. Rp6.000,00 saja. Mengetahuinya, kami langsung bungkus lagi buat bekal nanti malam.
Pelajaran No.6: kalau cari makan, di dekat kampus saja. Tidak menguras kantong.

Kenyang, habis sholat, perut lega, hati pun bahagia. Lalala, meluncur ke Uluwatu. Jalannya berkelok-kelok, kanan kiri meranggas pohonnya, dan tetap…menyengat!

Sampai juga di Pura Luhur Uluwatu.

“This temple is one of several important temples to the spirits of the sea along the south coast of Bali. It’s one of the seafront temples beside Tanah Lot, Rambut Siwi, and Pura Sakenan. The temple is perched precipitously on the southwestern tip of peninsula, atop cliffs that drop straight into the pounding surf” (lonely planet page 132).
“For the Balinese, Pura Tanah Lot is one of the most important and venerated sea temples. Like Pura Luhur Uluwatu, at the tip of the southern Bukit Peninsula, and Pura Rambut Siwi to the west. Its said that each of the ‘sea temples’ was intended to be within sight of the next, so they formed a chain along Bali’s southwestern coast-from Pura Tanah Lot you can usually see the cliffs top site of Pura Uluwatu far to the south, and the long sweep of sea shore west to Perancak, near Negara” (lonely planet page 272).


Berbagai macam gaya...
Pakai sarung, padahal celana kita lebih
dari selutut.
Wow, seandainya saya tuntas baca buku itu sebelum sampai di Bali, pasti kekaguman saya jauh lebih besar. Bayangkan, orang jaman Majapahit udah bisa mbangun arsitektur se-mikir itu dan se-keren itu. Dari salah satu Pura Laut tersebut, kita bisa melihat Pura Laut di seberang lho katanya… Padahal jaraknya puluhan kilometer. Semacam benteng terluar selatan Pulau Bali lah.

Tahu begini, kami nggak hanya foto-foto doang (lha memang mau ngapain lagi yak?). Setidaknya kami bisa merinding disko kalau bisa lihat Tanah Lot dari kejauhan begini. Sedihnyooo.
Ok, versi orang awam ya sekarang lanjutan ceritanya.

Masuk Uluwatu dikenai charge Rp3.000,00. Bagi yang bercelana pendek di atas lutut, diharuskan pakai sarung. Yang lain, cukup pakai selendang yang diikat di pinggang saja. Seharusnya hanya Bagunanto saja yang pakai sarung. Lha tapi kan kalau buat foto, bagus juga kalau pakai sarung… hihi, akhirnya saya, Himawan, Ryan, dan Alam pun pakai juga (ndeso bukan?).

Banyak monyet di sana, dan sebagian besar usil. Hati-hati barang bawaan Anda seperti kamera, topi, tas, dan ‘barang terjangkau tangan monyet’ lainnya.

Ahmad membawa toga. Baru saya tahu belakangan kalau kita memang dihimbau bawa toga untuk ‘gaya-gayaan’ foto wisuda di pantai. Tapi akhirnya hanya sang pencetus yang bawa, dan dipakai bergantian. Kami ambil fotonya di teater Pura Luhur. Katanya di hari tertentu ada Kecak yang ditampilkan sore-sore saat sunset di sana. Katanya (lagi), kecaknya sih biasa, tapi suasana sunsetnya itu yang bikin merinding.

Puas berfoto di dinding, di tebing, di karang, di tangga, dimana-mana, kami memutuskan untuk pulang. Lalu tiba-tiba, “Ndo, wajahmu kenapa?” kata Iza dengan nada kasihan. “terbakar itu” sahut mbak Amel. Setelah jadi bahan ledek-ledekan sebentar, lalu Iza menghampiri dengan membawa lotion hand body dan bilang “coba dipakai, biar nggak tambah blushing gitu”.

“Tapi tambah imut kok” kata Mbak Amel dan Iza (dalam hati mereka-tebak saya). Hahah. To be continue lah, kabur... #nyengirkebo :P      

 

No comments:

Post a comment