Wednesday, 30 November 2011

Hari 3 (bagian 2): Kuta-Persiapan



Sesampai di kosan (penginapan-red), kami bertiga bergantian mandi. Saat itu sekitar 8.30 WITA. Lega rasanya melihat air berlimpah setelah dua hari belakangan hanya mendapati fasilitas air kelas kereta ekonomi.

Usai mandi, Alam dan Ahmad tertidur pulas. Saya pun demikian, tapi tak sampai setengah jam saya bangun lagi arena terusik bule-bule di bawah yang lagi sarapan (FYI, kamar kosan kami ada di lantai 2, di bawahnya banyak toko dan warung (ejie, ada kosan, ada warung, kampus betul) yang dipenuhi bule). Hei, ini Bali. Jauh-jauh ratusan kilo kesini masa cuma dihabiskan buat tidur saja. Sayang dong, ayo bangun Sanda.

Energi positif ini coba saya tularkan ke teman-teman sekamar dulu, Alam dan Ahmad bangun bentar, lalu tidur lagi. Lalu saya cek tetangga sebelah, Ryan dan Dio malah tidur ditemani campursari-an lagu-lagu lawas. Bagunanto, Sinaga, dan Himawan sama saja. Para Kartini? Mungkin juga lagi mimpi Kartono, sebab kamarnya sunyi senyap.

Mulai ngantuk lagi. Saat itu pukul 9 WITA. Di seberang kosan ada rumah penduduk yang di lotengnya terdapat pura pribadi. Kebetulan saat itu jamnya sembayang. Saya liatin deh. Maaf ya bapak Made (kok tahu? Nebak aja, toh probabilitas seorang Balinese bernama Made adalah 1/5 (sotoy mode: activatedàguru matematika yang gagal)).

Beruntung Sinaga bangun, kalau nggak, saya tinggal tidur juga deh. Berkat bantuannya, kami berhasil meyakinkan 8 makhluk lainnya untuk melakukan perjalanan ke Bali bagian selatan.
 Bersama Matic dan Ahmad, otw Uluwatu

Ahmad, di Memorial Park Bom Bali Legian Kuta
Keluar kami cari persewaan motor, dan tak perlu jalan jauh dari kosan karena persewaan motor bertebaran dimana-mana. 1 motor Rp50.000. Kami perlunya 2 hari, jadi Rp100.000,00. Dengan rayuan maut, kami berhasil mendapat rabat Rp10.000,00 tiap sepeda (rabat adalah potongan tunai, berbeda dengan diskon yang menerapkan besaran persentase tertentu terhadap harga jualàcuih, sok mahasiswa betul bahasanya yak!). Syarat sewa di sana adalah dengan mengisi form pribadi yang mengharuskan kita punya SIM, dan meninggalkan KTP.

Adanya cuma motor matic, padahal saya nggak bisa naik matic! Kok bisa? Begini ceritanya, dulu pas awal SMA, jaman matic baru ngetrend, teman saya bawa matic baru ke sekolah. Saya pinjamlah matic itu (yang konon mudah pengoperasiannya). Benar saja, saya langsung lancar mengendarainya dan menabrakkannya ke gerbang parkiran. Bisa sih, tapi lebih baik jangan menggantungkan nasib Anda pada seorang yang menabrakkan dirinya ke gerbang sekolah. Agak trauma gitu pakai matic (paragraph ini di-skip saja, kok curhat gini isinya…ckck). Intinya saya bonceng Ahmad! Hampir sepanjang perjalanan selama 3 hari di Bali. Ahmad yang malang… Maaf ya bos e.

Bersambung, this post dedicated to Ahmad.

    

4 comments:

  1. lho, mas Roy mau ikut beginian? skripsinya bagaimana dong mas kalo ditinggal dolan ky gini... hehe

    ReplyDelete
  2. great adventure, great memories, great posting!
    #artinya minta oleh2 hhe..
    btw, kirain Amalia itu Mita,,fufu

    ReplyDelete
  3. ada sih, di rumah, belum dibuka juga. hehe. mau?


    #terharu euy, ceu inten tiba2 muncul (gak akan terjadi kalo nggak "suibuk")

    ReplyDelete