Saturday, 24 August 2013

Mendaki Penanggungan; Puncak Sejati Mahameru

Penanggungan terletak di Kabupaten Mojokerto, puncaknya terlihat dari rumah, tapi (sebelumnya) belum pernah saya berkesempatan menginjakkan kaki di sana. Hujan deras adalah faktor yang sering membuat rencana-rencana sebelumnya selalu gagal.
subuh di puncak bayangan
semeru di batas horison
a process
...tak perlulah aku, keliling dunia...
punggungan puncak penanggungan
gua, dekat puncak 


Idul Fitri, 1434 H saya mudik ke kampung halaman dari Jakarta (ecie mudik). Selama puasa di rantau tak pernah sakit, begitu lebaran, berbagai macam makanan dan minuman berebutan masuk perut. Jadilah, badan rasanya nggak enak semua. Kalau sudah begini artinya saya perlu ‘pelampiasan’ untuk jalan-jalan  entah kemana. Terlintas tiba-tiba, hey Penanggungan! Sudah semingguan di rumah tidak hujan, pasti jalurnya nggak licin.

Bersama 2 teman, saya berangkat pukul 22.30 H+1 Lebaran. Padahal tidak ada persiapan khusus, tenda, jaket, dan semua peralatan pendakian lainnya tertinggal di kosan. Karena tidak ada kompor, saya bungkus makanan untuk besok pagi di puncak.

Kami pilih jalur Trawas yang umum dipakai karena jalurnya cukup ‘nyantai’. Setelah tiba di pos penitipan sepeda, ternyata masih tutup. Maklum, masih suasana lebaran. Rasanya, kami pendaki pertama yang naik pasca puasa kemarin…

dia request, fotonya minta dipajang
Ferdi, 23 tahun, lajang,
siap jadi porter sekaligus pendamping  Anda
Sekitar pukul 24.00 kami mulai mendaki. Senter dinyalakan, MP3 dibunyikan biar mengurangi kesan spooky. Hehe. Perjalanan dimulai dengan melewati ladang penduduk di kaki gunung. Cukup gelap ditambah pengetahuan tentang tumbuh-tumbuhan saya yang kurang baik membuat saya cuma megenali tanaman bambu, lamtoro, dan singkong di sepanjang 2 km an pertama. Semakin lama, tanaman makin lebat dan berakhirlah vegetasi ladang menjadi hutan. Jalanan mulai terjal dan hanya cukup untuk satu orang. Rupanya, jalur ini memang jalur aliran air juga. Kebayang kan betapa licinnya pendakian sehabis hujan, apalagi saat hujan.

Setelah 2 jam perjalanan, di beberapa titik terbuka terhampar ribuan lampu rumah penduduk yang terlihat cantik. Beberapa kali kami break sekedar untuk menikmati pemandangan lampu dari ketinggian.

partner in crime!
alhamdulillah,  
Pukul 3, sampailah di puncak bayangan. Di depan terhampar jurang berpendar yang memeluk ribuan lampu kota, sedang di belakang, berdiri senyap dalam gelap puncak sejati Mahameru, Puncak Penanggungan.

Kenapa saya katakan Penanggungan adalah Puncak Sejati Mahameru? Sebab dalam mitos dikatakan bahwa ketika para dewa mengangkut Gunung Meru dari India ke Jawa dan diletakkannya di tempat Gunung Semeru sekarang, Pulau Jawa jadi tidak seimbang miring ke timur. Akhirnya, dipotonglah sebagian pucuknya dan diletakkanlah di tempat Gunung Penanggungan sekarang agar Pulau Jawa menjadi stabil. Mitos ini juga dikaitkan dengan alasan banyaknya candi yang tersebar di punggungan Gunung Penanggungan yang akan dijumpai kalau kita mendaki via Jalur Jolotundo. Jalur itu terkenal mistis dan tidak direkomendasikan daripada jalur Trawas.

Sesampainya di Puncak Bayangan pukul 3.30, perut ini berontak minta makan. Akhirnya bekal yang sejatinya untuk sarapan, saya makan saat itu juga. Usai makan, terbitlah ngantuk…
puncak, terlihat dari puncak bayangan.

Jadilah kami bertiga beralaskan ponco, tidur berdesak-desakan agar hangat. Udara semakin dingin ditambah angin gunung dari atas yang menerpa sekalipun kami berlindung di balik semak. Brrrr, jangan sekali-kali meremehkan Gunung deh. Mending persiapan yang matang sebelum naik. Oiya, tidak ada sumber air sedikitpun di sini, jadi bawalah air sesuai kebutuhan.

Pukul 5, dinginnya sudah tak tertahankan membuat kami bangun, sholat, dan persiapan summit. Jalur summit menanjak dari awal. Kemiringannya berkisar 30-60 derajat. Jalurnya kombinasi batu kecil, besar dan tanah humus dengan kiri kanan ilalang. Di tengah-tengah matahari sudah terbit, hihi, telat deh nonton momen sunrise di puncak. Nun jauh di atas awan sebelah selatan, puncak Mahameru menyapa. Di barat, puncak Arjuno dan Welirang dengan anggun menyapa seolah berkata “ayo, kapan-kapan kemari…”

Sebelum puncak, jalurnya penuh batu-batu besar dengan beberapa batu membentuk kombinasi gua yang bisa dipakai berlindung untuk 3 orang. Kalau tak bawa tenda (seperti kami) mending camp nya di gua batu itu.

Pukul 6 kami sampai di puncak memanjang. Lampu kota berganti dengan atap deretan vila di Trawas dan Pacet. Surabaya di utara, Pasuruan di timur, deretan pegunungan Tengger + Semeru di selatan, dan gugusan Arjuno Welirang di Barat. Alhamdulillah, Penanggungan 1653 mdpl berhasil dikunjungi.     

What’s next? J    

No comments:

Post a comment