Wednesday, 6 June 2012

Salah Sendiri Pilih STAN (1)

salah sendiri pilih STAN
Selalu seperti ini. Sejak kuliah, kami selalu berinteraksi dengan “ketidaktenangan” atas segala sesuatu. Jangan heran kalau kata “galau” amatlah populer di kampus kami. Demi apa, sebuah tabloid triwulanan kampus mengulas panjang lebar mengenai “galaumeter”-sebuah ukuran tingkat kegalauan seseorang- dalam sebuah edisi menjelang UTS nya? Ya tak lain dan tak bukan karena kami gemar menggalau. Eits, itu bukan tanpa sebab lho.

Ketidakpastian selalu membayangi setiap mahasiswa STAN. Nilai yang tak transparan diumumkan, Ikatan dinas yang banyak digosipkan, IP yang tak kunjung diupload, Penempatan yang lama (random pula), serta banyak hal lainnya.

Hal ini diperparah dengan hobi bergosip mahasiswa STAN. Heran saya. Kampus dengan mayoritas laki-laki begini kok banyak sekali tukang gosipnya. Tak henti-hentinya mereka mendiskusikan kemungkinan-kemungkinan serta mengkhawatirkan segala sesuatu tentang apa yang belum datang. Grup facebook selalu ramai jadi ajang terror kiriman artikel yang mengatasnamakan kepedulian terhadap sesama teman. Padahal, alih-alih menenangkan, artikel tersebut justru membuat seisi grup makin bingung. Sisa percakapan di grup? Ya tentang curhatan dan keluh kesah mengenai kondisi yang belum pasti.

Kenapa ya bisa seperti ini…

Saya yakin, dan saya tahu betul, semua mahasiswa STAN cerdas. Minimnya arena penyaluran kecerdasan membuat kami gemar melakukan hal-hal tak guna. Dilengkapi dengan ketidakpastian yang saya jelaskan di atas  membuat hal-hal tak guna itu menjadi sangat sering terjadi.

Minim arena? Ya, minim. Dalam perspektif saya, puluhan elkam dan interest club yang berjibun di kampus masih belum banyak “dianggap” oleh mahasiswa. Sekalipun, misal, banyak yang hobi IT, toh klub IT kampus biasa-biasa saja jumlah peminatnya. Artinya, masalah bukan ada di elkamnya yang tidak menarik, atau interest clubnya kurang banyak, Bukan! Jadi jelas masalah ada di diri kami masing-masing.

Masuk kampus ini, dengan embel-embel pelat merahnya, sepertinya langsung mengubah mahasiswanya secara drastis menjadi apatis. Pemikiran bahwa, “ah, setelah lulus pasti penempatan toh? Gaji sama toh? PNS nanti kerjanya ya gitu-gitu toh?” praktis membuat peminat kegiatan kampus berkurang secara signifikan, dan jikapun ada yang mau ikut, lagi-lagi ya itu-itu saja.

Berbeda dengan pemikiran mahasiswa kampus non PTK. Setelah lulus, Anda dituntut untuk benar-benar survive cari duit sendiri! Seleksi alam hanya akan menyisakan yang terkuat dan paling siap menghadapi dunia kerja. Sehingga mahasiswa PTN dan PTS (yang sadar) akan benar-benar memanfaatkan masa kuliahnya untuk mencari bekal sebanyak mungkin. Dari sisi hardskill, mereka akan cari IP tinggi bila mengejar beasiswa S2 atau perusahaan bonafit. Softskill, jelas. CV yang bagian ‘pengalaman organisasi dan kursus’ penuh akan tampak lebih menarik bagi HRD perusahaan. Dan pengalaman interview di berbagai kegiatan kampus relatif akan memudahkan dalam menghadapi wawancara, setidaknya mereka tahu bagaimana rasanya sebelumnya.

Tapi, saya sudah kerja di Kemenkeu.
Tapi, saya sudah lulus.
Tapi, saya sudah mau PKL.
Tapi, saya sudah mau tingkat tiga.
Bagaimana?

Menyalahkan siapa? Salahkan diri kita sendiri. Siapa suruh mengabaikan puluhan pamphlet OR elkam yang bertumpuk-tumpuk di gedung D dan E? Siapa suruh selalu menolak diajak ngaji/acara kerohanian? Siapa suruh hanya gulung-gulung di kasur tiap akhir pekan? Siapa suruh selalu menutup kuping dengan segala macam sindiran baik lisan maupun tulisan seperti ini? Dan bahkan sekarang kita menafikkan kalau “Ya, saya telah melakukan kesalahan, dan saya mau berubah”.

Terpenting, salah sendiri pilih STAN.


My heart was left in Ali Wardhana college. Miss U so much.
 

No comments:

Post a comment