Thursday, 5 April 2012

Trilema Mahasiswa


Akhir-akhir ini populer sekali istilah trilema mahasiswa (meski bukan lagi disebut mahasiswa, saya update berita lho…>> bangga). Sebuah pelesetan dari “dilemma” yang menurut pemahaman saya adalah “kebingungan untuk memilih di antara dua pilihan”. Ya, anak muda jaman sekarang sih menyebutnya “galau”.
Trilema, anggap saja sama, artinya “kebingungan untuk memilih di antara tiga pilihan”. Pilihan apa? Itu tergantung Anda. Namun, umumnya, seorang mahasiswa akan memiliki tiga kondisi ideal yang ingin dicapainya.
kadang, dua saja sudah cukup bagus lho...

1.      Nilai Bagus
Pasti, poin ini tidak banyak diragukan. Apapun kampus Anda, jujur atau tidak, pasti setiap dari Anda berambisi untuk dapat nilai bagus. Setidaknya lulus lah. What? Target Anda cuma “lulus”? Perusahaan elit mana yang mau nerima pegawai dengan IPK mepet mepet alias nanggung? Dua koma saja jarang, apalagi satu koma. Pasti sebagian besar mahasiswa bermimpi setelah lulus nanti ingin kerja di perusahaan bonafit kan? Nah, perusahaan elit itu bakal pertama kali melihat IP kelulusan Anda sebagai bahan pertimbangan. Tapi kan, tiap kampus grade dan kualitasnya berbeda? Betul sekali. Ambillah contoh Anda kuliah ITB (yang dipandang sebagai kampus paling elit seantero Indonesia), apa Anda kuliah cuma sendirian di ITB? Tidak kan… Minimal saingan nilai Anda adalah dengan teman seangkatan Anda di ITB. Belum lagi saingan dengan ratusan (atau bahkan ribuan) kampus lain di seluruh Indonesia. Eh, bukan Indonesia saja deh, ingat, sekarang sudah persaingan bebas lho.
So, gak usah neko-neko deh, Nilai Bagus itu mutlak selama Anda kuliah. Dimanapun!
Hiraukanlah orang-orang yang sok santai dan berkoar-koar bilang “santai saja, aku nggak mau study oriented”. Bohong besar! Jika dia memang orang yang “nyantai”, harusnya Anda tidak akan mendapatinya melakukan psywarnya seperti itu di berbagai kesempatan. Mereka Cuma mau kita lengah. Waspadalah!
2.      ;/span> Pergaulan Oke
Ini nih, hal paling penting yang kedua (atau pertama juga boleh). Dosen saya dulu pernah bilang kalau kesuksesan orang-orang besar itu 80% disebabkan oleh softskill, sisanya hardskill (Nilai bagus, otak encer). Softskill itu, dapatnya ya dari pergaulan dengan dunia luar. Dengan teman, guru ngaji, dosen, organisasi, dsb.
Poin ini, jika Anda ingin serius memaksimalkannya, akan sangat menyita banyak waktu, tenaga, dan pikiran.
Namun sadarilah, 80% Orang-orang terdahulu sudah membuktikannya. Koneksi itu sangat memudahkan hidup Anda, kapanpun dimanapun.
3.      Tidur Cukup
Nah, kelihatannya poin ini paling sepele, jadi saya tulis di paling akhir. Tidak! Ini sangat penting. Tidur cukup adalah kunci agar kita tetap bisa hidup sehat. Badan dan pikiran tetap focus. Apalah arti belajar berjam-jam jika sedari awal kita sudah menguap-nguap tidak konsen. Apalah daya ini jika semalam lembur belajar, eh paginya kita demam dan nggak kuat berangkat ujian ke kampus. Ekstrem bin lebay sih contohnya. Namun, sering kita jumpai kan?
Kemudian, pengaruhnya terhadap pergaulan apa? Mana ada yang mau ngajak futsal atau badminton kalau kita lemes gara-gara kurang tidur? Mana bisa kita ikut jalan-jalan keliling Jakarta kalau flu nggak sembuh-sembuh? Come on, badan sehat itu nomer satu, sisanya, baru enak (atau bahkan ‘bisa’) dilakukan kalau badan sehat. Dan, itu berawal dari tidur cukup.

Trilema
Nyatanya, sangat sulit bagi kita untuk memenuhi ketiganya. Meski sebagian kecil mahasiswa bisa –dengan sangat sukses- mengatasinya. IP selangit, organisasi dan teman banyak, serta wajah selalu berseri-seri. Duh, irinya saya dengan orang-orang seperti itu.
Beberapa hanya mampu sukses di satu atau dua aspek saja.
IP parallel se-angkatan tapi tidak bisa dihubungi selepas magrib, tidak bisa diajak main, atau kelihatan kurang tidur. Please accept my condolences...
IP sangat memuaskan, kelihatan cukup tidur, tapi tak paham apa itu tomcat, apa itu Cherrybelle, apa itu Jaruknya Afika (haha, gak penting ya permisalannya). Plis dah, kemana saja…
Teman banyak, badan prima, tapi tiap semester selalu panik nanya-nanya kabar kelulusannya bagaimana. Kasihan…
Organisasi seabrek, nilai cukup oke, tapi bulan ini tipes, bulan depan muntaber, bulan depannya lagi anemia. Duh, nggak kasihan sama orang tuamu ya?
Lantas, apa yang harus kita lakukan? Dikarenakan saya juga bukan termasuk orang yang sangat sukses menaklukkan trilema tersebut, jadi ya saya tak bisa kasih solusi yang member jaminan 100% manjur. Namun, tidakkah kita melihat ada korelasi di antara ketiganya?
Ya, waktu!!! (haha, kayak ada yang nebak saja. Padahal enggak ><)
Manajemen waktu adalah kunci menggenggam ketiganya. Meskipun, selalu ada eksternalitas yang terjadi. Maksudnya? Ya, akan ada yang tidak maksimal kalau kita mengincar ketiganya. Katakanlah tidur cukup itu delapan jam sehari, berkurang jadi Buma enam atau tujuh jam gara-gara kita perbanyak waktu nongkrong di basecamp organisasi. Lalu, belajar dikurangi sedikit, buat ikut mentoring di masjid. Dan seterusnya.
Setelah waktu dimanage, selanjutnya adalah pembuatan skala prioritas. Kurangi kegiatan-kegiatan yang kurang bermanfaat. Ada opportunity cost dari setiap pilihan. Bandingkan, dan ambil yang paling banyak memberi manfaat untuk diri Anda juga sekitar. Saya rasa Anda sudah cukup bisa dan dewasa untuk memilih.
Terakhir, jika meski Anda sudah berusaha membagi waktu dan hanya melakukan kegiatan yang sudah Anda prioritaskan tapi tetap saja hasilnya kurang memuaskan, percayalah, Tuhan punya rencana yang jauh lebih indah dari sekedar apa yang telah Anda bayangkan.     

No comments:

Post a comment