Tuesday, 3 April 2012

Cemoro Lawang


Dari pertigaan pasar Patalan Probolinggo, kami sarapan nasi Pecel. Lauk telur biar aman (I am talking about price). Usai itu, kami menunggu Elf yang menuju Cemoro Lawang.

Setengah jam menunggu, belum ada angkutan yang lewat. Menginjak hampir sejam, sebuah Elf biru muda kecoklatan (karena berkarat) pun tampak. Hasil negosiasi menghasilkan tariff Rp15.000,00. Saya, Iza, dan Sinaga masuk ke dalam Elf. Tiga orang lainnya naik ke atap bersama tas-tas kami. Awalnya saya juga sangat berniat naik atap juga. Namun, pak Supir melarang. Melihat saya agak kecewa, Sinaga bilang “biar saja, pasti nanti mereka menggigil atau masuk angin kedinginan”.

Benar saja, baru 15 menit, kami yang di dalam Elf sudah cari jaket. 5 menit berikutnya semua jendela sudah ditutup karena anginnya sangat kencang. “apa ya, yang terjadi pada Uzi, Syamsuri, dan Surya di atas?” batin saya agak kasihan pada mereka.
Jalanan meliuk-liuk di sepanjang lading kentang khas pegunungan. Ladang kentang berganti sawi, sawi berganti wortel, dan kemudian hutan-hutan tinggi. Sampai Sukapura, Elf menurunkan serombongan penumpang. Lalu pak supir ikut turun dan meneriaki ketiga teman kami di atas agar masuk mobil saja.

Mereka terlihat agak pucat kedinginan.

Akhirnya, sampai juga di desa Cemoro Lawang. Pemberhentian terakhir Elf kami. Gerimis menyambut kami. Wow, dingin betul.

foto pertama kali di cemoro lawang.
di sekeliling kami itu para penjual kaos
Melihat wajah kami yang ‘sangat-tidaktahu-apaapa’ ini, para penjaja penginapan dan souvenir langsung mengerubungi. Mulai dari ditawari kaos, sarung tangan, kupluk, sampai penginapan. Dan apa? Semuanya terbeli. Bukan karena kami bodoh atau uang kami terlalu banyak, tapi, yakin, udara dingin betul. Saya saja menggigil meski sudah pakai jaket dan kupluk, tanpa sarung tangan.

Penginapan pun juga terbeli (tersewa-red). Rp300.000,00. Mahal!
Pelajaran No. sekian: udara dingin mampu membuatmu tidak berpikir jernih.

No comments:

Post a comment