Tuesday, 6 March 2012

Mencintai Pajak Seutuhnya


Mencintai pajak? Jelas hal ini tidak pernah terpikirkan oleh saya. Bahkan minggu lalu saya masih berkata “saya tidak suka segala hal yang berkaitan dengan pajak”. Lalu, apakah judul tulisan ini hanya lelucon? Tidak, sekarang, detik ini, (dan semoga sampai kapanpun) saya mencintai pajak dan direktorat jenderal pajak sepenuh hati.

10 tahun lalu

2002, adalah awal saya masuk SMP. Menyadari bahwa saya dilahirkan di tengah keluarga yang sederhana, saya merasa tak akan punya banyak pilihan seusai lulus SMA nanti. Mungkin saya pintar di sekolah, tapi yang saya tahu saat itu, kepintaran tak serta merta membuat Anda dapat kuliah dengan mudah.

Lalu, beberapa paman saya lulus dari STAN, sebuah sekolah gratis (yang saya tahu sebatas itu saja) menunjukkan bukti kecukupan ekonomi seusai lulus dari sana. Berbekal dari latar belakang itu saya bermimpi akan sekolah sana suatu hari nanti.

7 tahun lalu

2005, sungguh masa yang berat. Alhamdulillah, demand di warung Ibuku berbanding lurus dengan mahalnya biaya beli buku di SMA saya. Makin termotivasilah saya untuk masuk STAN yang katanya di sana buku kuliah dipinjami gratis.

2005 pula, saya mengenal pelajaran ekonomi. Saat itu mulai sedikit paham dengan pajak. “gila ya, Negara ini nyuruh orang bayar uang tapi kok gak dikasih apa-apa yang nyata”. (mulai agak komplain dengan pajak)

2006, Ibu menyarankan saya masuk STAN. (oke, bundaaaa, saya bahkan sudah mimpi sejak SMP. *toss dulu)

2007, saudara dan tetangga sekitar mulai tahu bahwa saya ingin masuk STAN, komentarnya, “wah, enak itu, nanti kerja di pajak. lahan basah itu. Bisa banyak uang kamu di sana”. Bukannya senang, saya mulai merasa ragu dengan kampus impian. 2007, tetangga sebelah masuk prodip I Bea Cukai. Seusai lulus dari sana, kami kerap berbincang lama. Darinyalah saya tahu bahwa ‘iklim’ di STAN sangat bagus, kondusif dan agamais. Terpenting, ada jurusan lain yang tidak berhubungan dengan pajak. Bismillah, jadilah saya tetap berteguh hati mimpi masuk STAN.
2008. sepanjang tahun saya latihan buku Ujian Saringan Masuk STAN dan kesana kemari (*efek ketenaran ayu ting-ting) ikut Try Out USM. Saat USM, dengan bekal doa ibu, mimpi, dan persiapan matang, I know nobody can’t stop me. Dalam pilihan jurusan, saya menjauhi/tidak memilih segala hal yang berbau pajak seperti Administrasi Perpajakan atau Pajak Bumi Bangunan.

2008 akhir saya diterima di STAN jurusan Akuntansi Pemerintahan. Senang sekali saya. Meski tak punya uang buat masuk Fak.Kedokteran, tapi jurusan ini dikatakan mirip jurusan Akuntansi STAN lhooo. Mahasiswanya buanyak (900an) plus mereka semua keren gila!

Sebagian besar teman kos saya dari jurusan pajak. Seringkali saya main olok-olokan jurusan (betul, mirip anak kecil ya?) dan sudah pasti, saya yang dikeroyok enam orang mahasiswa pajak pasti kalah debat dengan mereka.

2009 akhir, kakak kelas kami dari jurusan pajak (dan penempatan setjen-pengadilan pajak) menjadi headline berbagai media. Tiba-tiba saja setiap orang di mana-mana bicara pajak dan Gayus. Tentu bukan suatu pembicaraan yang enak didengar bagi kami, mahasiswa STAN. Meski sebisa mungkin tak acuh, panas juga telinga ini mendengarnya.

Kemudian terminal di dekat Jalan Gatot Subroto (kanpus DJP) berubah nama jadi terminal Gayus, dan kemudian kanpus DJP disebut-sebut oleh para kondektur metro mini  sebagai kantor Gayus. Duh Gusti…

Itu sudah? Belum…

Selanjutnya, banyak curhatan yang dibicarakan teman-teman di kampus. Ada yang diolok-olok tetangga mereka, dicibir, dicap bahwa kami adalah penerusnya Gayus, dsb. Saya sendiri, ‘hanya’ selalu diceramahi agar jangan sampai seperti Gayus oleh tiap orang yang saya temui. Awalnya saya menganggap positif ceramah mereka. Lama-lama saya bosan juga. Betapa mudahnya mereka mengecap kami semua sama jahat dan bobroknya dengan Gayus. Noted: kami mahasiswa lho yang notabene belum tahu banyak hal dalam dunia kerja.

Saat saya mulai jenuh, saya mulai berkata, “saya lho nanti nggak kerja di pajak, nggak akan”. “saya lho jadi auditor BPK atau BPKP”. “justru kerjaan saya nanti nangkepin orang-orang kayak Gayus”. Padahal saya tidak tahu pasti dimana saya akan ditempatkan.

2010-tingkat 2
Saya makin aktif di organisasi audit.

Allah mengikuti persangkaan hambanya.  (diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a.)
Semesta mendukung. (Yohannes Surya)
Mimpilah, letakkan impianmu 5cm di depan keningmu (Donny Dhirgantoro)

Lalu saya simpulkan, Anda, adalah apa yang Anda pikirkan (Sandstory).
Saya terus berpikir saya akan penempatan BPK, mencintai buku auditing, dan tidak membuka hati untuk instansi lain.

2011-tingkat 3

Makin hari, saya makin cinta audit. Tiap hari saya berdoa agar dikabulkan jadi auditor. Namun, tetap, di akhir bisikan doa saya, selalu saya katakana “apabila itu baik bagiku, maka kabulkanlah ya Allah”

21-02-2012 (Lihat, tanggal ini sungguh simetris)

Pengumuman instansi, DIREKTORAT JENDERAL PAJAK!
--------------------------------------->>>>>> rememori <<<<<<<----------------------------------------

Rabu, 1 Maret 2012

Kami diwajibkan lapor ke Kantor Pusat DJP Jalan Gatot Subroto. Tak ada kejadian yang mampu membuat saya lebih bahagia dengan takdir ini.

Kamis, 2 Maret 2012, Gd. Dhanapala, Kementerian Keuangan

Pembekalan Lulusan Prodip III Keuangan STAN 2011. Ada sedikit harapan bahwa saya akan mampu survive di sini. Berteman dengan 1.607 alumni STAN 2011 (yang tersebar di 11 instansi kemenkeu), saya yakin saya akan menemukan semangat dan benar-benar mensyukuri penempatan ini.

Jumat, 3 Maret 2012, Aula Chakti Budhi Bakti, Kanpus DJP

Pembekalan Lulusan Prodip III Keuangan STAN 2011 penempatan DJP

Sesi Pertama: oleh sekdirjen pajak Bapak Herry Sumardjito
Saya simpulkan, beliau orang baik dan tulus. Betapa menyengkan mendengar wejangan beliau terhadap 495 pegawai baru DJP ini. Sedikit asa membuncah. Ini pekerjaan mulia, Negara bergantung pada penerimaan pajak dan kamilah yang nantinya akan bergabung dengan 36.000 pegawai DI SELURUH INDONESIA mengumpulkan pajak dan mengawal keuangan Negara.

Sesi Kedua: bersama Dirjen Pajak Bapak A.Fuad Rahmany
http://www.mediaindonesia.com/read/2011/01/21/197451/4/2/Tjiptardjo-Dicopot-Fuad-Rahmany-Jadi-Dirjen-Pajak

Subhanalloh, beliau keren sekali. Baru tahu saya. Langsunglah beliau menjadi idola saya seketika. Betapa bagus cara bicara beliau, runtut, dan terstruktur. Beliau mengutarakan hal-hal yang sederhana kok. Sama seperti materi kuliah kami di semester 1 dulu. Namun, dengan cara peyampaiannya yang maksimal, hal itu jadi berarti.

Saya tahu, sejak dulu pajak itu penting. Tapi seberapa ‘penting’ itu penting saya paham sebatas textbook. Pak Fuad memahamkan.
our marvelous father

Saya juga tahu, target Negara terhadap DJP luar biasa berat, tapi ‘seberat’ apa itu juga hanya bisa saya raba dari buku pengantar perpajakan. Dan Pak Fuad menjelaskan.

Saya dari dulu juga tahu, kalau DJP sangat vital, tapi terus tergerus oleh berita dan cemoohan tetangga terhadap Gayus dan kami. Pak Fuad menjelaskan apa akibat jika DJP meleset sedikit saja dari target yang diberikan.

Saya tahu juga, Pak Fuad juga mengatakan, pasca badai kasus Gayus, saat ini muncul juga 'kemungkinan' bencana DA & DW yang menguras kepercayaan masyarakat terhadap pegawai pajak. Dan beliau juga sedang bersusah hati. Namun beliau meyakinkan kami untuk terus bersabar.

Paling berkesan ketika Beliau bilang, “masih untung lu, bisa ngirup udara tiap hari di Indonesia, coba kalo lu ada di Timur tengah yang negaranya perang mulu tiap hari. Pasti tidur gak pernah tenang. Biar aman harus ada apa? Tentara dan polisi kan? Biar tentara mau njaga perbatasan, biar polisi mau jaga keamanan harus apa? Digaji kan? Coba, tentara dan polisi gak digaji atau setidaknya dipotong gajinya? Gak mau kerja pasti. Nah, gaji itu Negara duit darimana?”

Ah, ini cukup untuk membuat saya mencintai Direktorat Jenderal Pajak. Saya yakin, selanjutnya, saya bisa bekerja dengan hati. Sudah ikhlas dengan penempatan ini.

Sebelumnya, saya selalu takut bila sudah bekerja tapi belum menemukan motivasi yang mampu membuat saya nantinya bekerja dengan tulus dan sepenuh hati.

Alhamdulillah, terimakasih Pak Fuad. Abdi kami padamu, pada instansi ini, pada negeri ini.

Mojokerto, 6 Maret 2012

    
   

No comments:

Post a comment